RADAR BLAMBANGAN.COM, | MOJOKERTO, — Sedikitnya 150 siswa dan santri di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menyusul kejadian tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 resmi dihentikan sementara.
Penghentian dilakukan sembari menunggu hasil evaluasi dan investigasi menyeluruh atas dugaan keracunan massal yang menimpa para pelajar dari sejumlah sekolah dan pondok pesantren.
Dandim 0815 Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo, menegaskan bahwa TNI/Polri bersama Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan Badan Gizi Nasional (BGN) telah turun tangan untuk memastikan penyebab insiden tersebut.
“SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 kita setop sementara, kita evaluasi dan dilakukan investigasi,” ujar Letkol Inf Abi Swanjoyo kepada wartawan di Ponpes An-Nur, Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, penghentian sementara ini dilakukan sambil menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang diduga menjadi pemicu para siswa dan santri mengalami sakit perut, mual, serta pusing.
Ia juga menegaskan, apabila dalam proses investigasi ditemukan unsur kelalaian maupun pidana, maka akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Jika memang ada unsur pidana, pasti akan kita proses sesuai undang-undang,” tegasnya.
Sementara itu, data sementara mencatat sekitar 150 siswa dan santri terdampak dan saat ini masih dalam pendataan lanjutan untuk memastikan jumlah pasti korban.
“Total sementara sekitar 150 orang, tersebar di beberapa puskesmas dan rumah sakit di Mojokerto. Kepastian jumlah korban masih kami dalami,” tambahnya.
Para korban berasal dari SMP/MTs dan SMA/MA Pondok Pesantren Al Hidayah Desa Wododadi, Ponpes An-Nur Desa Singowangi, serta SMP Negeri 2 Kutorejo.
Saat ini, para siswa dan santri menjalani perawatan intensif di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya Puskesmas Kutorejo, Pacet, Bangsal, Gondang, serta RSUD Prof. dr. Soekandar, Kecamatan Mojosari.
Pihak berwenang menegaskan masih menunggu hasil kajian Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto dan kepolisian sebelum menarik kesimpulan final.
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebab pastinya. Gejala muncul tidak bersamaan, ada yang Jumat sore, Jumat malam, dan sebagian besar Sabtu. Ini masih kami dalami, termasuk soal proses penyajian MBG,” pungkasnya.
(LIMBAD/EVA)
