RADAR BLAMBANGAN.COM, | Surabaya – Langit senja di Surabaya perlahan menggelap ketika lantunan doa mulai bergema dari Masjid Nasional Al-Akbar. Di ruang ibadah yang megah itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memilih menyambut Ramadhan 1447 Hijriah dengan cara yang sederhana namun sarat makna: duduk bersama jamaah dalam tradisi Megengan.
Tak ada sekat jabatan malam itu. Khofifah membaur di antara ulama, tokoh masyarakat, dan warga yang datang membawa harapan menjelang bulan suci. Megengan, tradisi turun-temurun masyarakat Jawa, menjadi ruang hening untuk menata hati bukan sekadar seremoni, melainkan jeda spiritual sebelum memasuki Ramadhan.
Dalam refleksinya, Khofifah menyampaikan bahwa Megengan adalah pengingat agar setiap pribadi datang ke Ramadhan tanpa beban, dengan hati yang telah dibersihkan oleh maaf dan niat baik.
“Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan batin. Maka sebelum melangkah, mari kita saling mengikhlaskan dan menguatkan,” tuturnya pelan, namun tegas.
Suasana terasa hangat ketika doa-doa dipanjatkan bersama. Sebagian jamaah tampak menengadahkan tangan lebih lama, seolah menitipkan kegelisahan dan harapan sekaligus. Di sudut lain, anak-anak duduk bersisian dengan orang tua mereka, menyerap tradisi yang kelak akan mereka kenang.
Khofifah juga menyinggung pentingnya menjaga empati sosial selama Ramadhan. Ia mengajak masyarakat menjadikan bulan suci sebagai momentum memperluas kepedulian menguatkan yang lemah, merangkul yang sendiri, serta memastikan tidak ada yang merasa ditinggalkan.
Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Megengan bukan hanya warisan budaya, melainkan simpul kebersamaan yang mempertemukan nilai religius dan kearifan lokal. Dari Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, pesan itu mengalir: bahwa menyambut Ramadhan adalah tentang merawat harmoni dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.***
