RADAR BLAMBANGAN.COM, | Surabaya, 21 Februari 2026 – Di kota Surabaya yang bernafas tasbih ketika senja turun perlahan, hari ketiga Ramadhan hadir bukan sekadar sebagai hitungan waktu, melainkan sebagai isyarat halus bagi jiwa-jiwa yang sedang berjalan menuju-Nya.
Puasa pada lapisan terdalam bukanlah tentang lapar dan dahaga. Itu hanya kulitnya. Hakekatnya adalah penanggalan diri. Nafsu ditanggalkan, ego diluruhkan, keakuan dileburkan. Pada hari ketiga, seorang hamba mulai merasakan bahwa yang sesungguhnya berpuasa bukan tubuhnya, melainkan rahasianya (sirr). Ia diam, tetapi hatinya bersuara. Ia menahan, tetapi jiwanya dilepaskan dari belenggu dunia.
Taman permata dan ribuan rumah cahaya di Firdaus bukan sekadar janji kenikmatan, melainkan bahasa simbolik tentang hati yang telah dibersihkan. Permata adalah kejernihan niat. Rumah-rumah cahaya adalah amal yang tidak lagi mengharap pujian. Firdaus adalah maqam kedekatan, ketika hamba tidak lagi mencari surga, tetapi mencari Pemilik Surga.
Dalam makrifat, pahala bukan lagi hitungan angka. Ia menjadi rasa. Ia menjadi kehadiran. Ada getar lembut dalam dada yang tak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Seakan Allah memperkenalkan diri-Nya melalui sunyi. Lapar menjadi dzikir. Dahaga menjadi tafakur. Waktu menjadi cermin tempat hamba melihat betapa kecil dirinya dan betapa Maha Luas kasih-Nya.
Sebagaimana dituturkan oleh Goes Santoz Pemangku Majelis Sholawat Fihubbi dan sekaligus Ketua Fast Respon Counter Polri PW DPW Jawa Timur, bahwa jika seluruh tinta kewartawanan hendak menuliskan dahsyatnya manifestasi rahmat di hari ketiga, niscaya ia akan habis sebelum makna itu selesai diurai. Sebab yang hakiki bukan terletak pada kata, melainkan pada rasa yang disingkapkan Allah hanya kepada hati yang berserah.
Puasa mendidik tubuh agar tunduk, mendidik lisan agar jujur, mendidik hati agar bening. Ia membangun keteraturan lahiriah agar tercapai ketertiban batiniah. Dari pengaturan makan lahir pengendalian diri; dari penjagaan sikap lahir kejernihan akhlak; dari komunikasi yang ikhlas lahir persaudaraan yang tulus. Namun semua itu hanyalah gerbang.
Pada hari ketiga, seorang salik mulai memahami: Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan pertemuan. Pertemuan antara kehendak hamba dan kehendak Tuhan. Pertemuan antara fana dan baqa. Pertemuan antara cinta yang mencari dan Cinta yang memanggil.
Dan ketika mata terpejam dalam doa menjelang berbuka, ada kesadaran yang perlahan tumbuh bahwa perjalanan ini bukan tentang menahan lapar sampai maghrib, melainkan tentang menahan diri sampai jiwa benar-benar kembali kepada-Nya.
Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang berpuasa, tetapi menjadi jiwa yang dipuasakan dari selain Allah. Karena di sanalah makrifat bermula: ketika hati tidak lagi melihat dirinya, melainkan hanya melihat Cahaya-Nya. (Bagas)
