RADAR BLAMBANGAN.COM, | Banyuwangi – Malam turun perlahan di ujung timur Pulau Jawa pada Kamis (05/03/2026). Angin dari arah Selat Bali berembus lembut, membawa aroma laut yang tipis seperti kenangan lama yang kembali pulang. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, memantul di sela dedaunan yang berdiri tenang. Di tengah suasana itu, sebuah pertemuan berlangsung di sebuah tempat yang oleh banyak orang disebut Rumah Kebangsaan sebuah basecamp sederhana yang kerap menjadi ruang pertemuan ide, gagasan, dan percakapan panjang tentang masa depan Banyuwangi.
Malam itu, ruang tersebut menjadi saksi sebuah perjumpaan yang tidak biasa. Rofiq Ripto Himawan, Kapolresta Banyuwangi yang baru mengemban amanah sejak Januari 2026, hadir bersua dengan para tokoh masyarakat, jurnalis, aktivis, serta budayawan Banyuwangi. Ia datang bukan sekadar sebagai pejabat negara, tetapi sebagai seseorang yang ingin mendengar, berdialog, dan merajut kebersamaan melalui bahasa kebudayaan.
Pertemuan itu mempertemukan sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi. Di antaranya Aekanu Hariyono dari komunitas Killing Osing yang juga dikenal sebagai pemandu wisata internasional, KRT Ilham Triadi dari Panji Blambangan yang pernah menjadi pawang hujan dalam peringatan detik-detik Proklamasi tahun 2024 di IKN, Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi yang tulisannya kerap dimuat di berbagai media nasional, serta Pramoe Soekarno, pengurus Dewan Kesenian Belambangan.
Mereka berkumpul bukan sekadar duduk dalam satu ruangan, melainkan untuk merajut gagasan tentang bagaimana kebudayaan dapat berjalan seiring dengan ketertiban sosial, bagaimana tradisi tetap hidup di tengah modernitas, dan bagaimana Banyuwangi terus menjaga dirinya sebagai tanah yang ramah bagi keberagaman.
Percakapan malam itu mengalir tanpa sekat formalitas. Tidak ada jarak antara pangkat dan gelar. Diskusi terasa seperti obrolan panjang para sahabat lama yang saling mengenal dalam bahasa yang hangat.
Sejumlah tokoh turut hadir dan memberi warna dalam dialog tersebut, di antaranya M Yanuar Bramuda selaku Asisten Sekretariat Kabupaten Banyuwangi, Gus Reza Azizi dari Pengurus PCNU Banyuwangi, serta Achmad Wahyudi, pengasuh Pondok Pesantren Ad Dzikro. Mereka berbincang tanpa protokol yang kaku, membicarakan banyak hal: dari keamanan wilayah, perkembangan masyarakat, hingga masa depan kebudayaan Banyuwangi.
Sesekali tawa pecah memecah keheningan malam. Namun ada pula saat-saat ketika ruangan menjadi sunyi, terutama ketika pembicaraan menyentuh identitas Banyuwangi sebagai Tanah Blambangan tanah yang sejak lama dikenal sebagai ruang pertemuan berbagai tradisi, berbagai keyakinan, dan berbagai bahasa kebudayaan.
Dalam perbincangan tersebut, Kapolresta Banyuwangi menegaskan bahwa keamanan sebuah daerah tidak hanya dibangun melalui kekuatan aparat negara, tetapi juga melalui kekuatan masyarakatnya. Kebudayaan, menurutnya, memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial. Tradisi, bahasa, kesenian, dan nilai-nilai lokal mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap tanah tempat seseorang hidup. Dari rasa memiliki itulah lahir kepedulian, dan dari kepedulian itulah lahir ketertiban.
Sebagai alumnus Akademi Kepolisian tahun 2001 dari Batalyon Sarja Arya Racana, Kombes Rofiq memiliki latar belakang akademik yang kuat. Sebelum bertugas di Banyuwangi, ia pernah mengemban amanah sebagai Dosen Utama di Akademi Kepolisian (Akpol) Lemdiklat Polri sebuah posisi yang menempatkannya dalam dunia pendidikan dan pembinaan generasi perwira kepolisian.
Namun pada malam itu, gelar akademik dan pangkat kepolisian seolah larut dalam suasana dialog yang cair. Ia hadir bukan sebagai seorang komandan, melainkan sebagai sahabat percakapan bagi para tokoh masyarakat dan pelaku budaya.
Pembahasan yang muncul pun beragam. Dari keamanan regional, pelestarian tradisi Osing, hingga ruang kreatif bagi generasi muda Banyuwangi agar tetap memiliki kebanggaan terhadap identitas budayanya.
Kepada media ini, Aekanu Hariyono mengingatkan bahwa kebudayaan Banyuwangi tidak boleh dipahami hanya sebagai festival atau pertunjukan seni semata. Kebudayaan adalah napas kehidupan masyarakat, hidup dalam bahasa Osing yang masih digunakan sehari-hari, dalam ritual adat yang diwariskan turun-temurun, dan dalam sikap hidup masyarakat yang menghormati alam serta tradisi.
Sementara KRT Ilham Triadi menyinggung sejarah panjang Blambangan sebagai ruang pertemuan berbagai peradaban. Dari masa kerajaan hingga Banyuwangi modern hari ini, tanah ini selalu menjadi tempat di mana berbagai pengaruh budaya bertemu, saling bersentuhan, lalu membentuk identitas yang khas.
Ketika ditanya mengenai perkembangan literasi di Banyuwangi, Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi menegaskan bahwa sastra memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat. Melalui puisi, cerita, dan narasi budaya, generasi muda dapat mengenali jati dirinya tanpa harus terpisah dari dunia modern.
Pertemuan malam itu juga selaras dengan pendekatan kepemimpinan Kapolresta Banyuwangi yang dikenal melalui gagasan Commander Wish, yaitu penguatan nilai iman, soliditas internal, serta pelayanan yang humanis kepada masyarakat.
Dalam beberapa bulan pertama masa kepemimpinannya, Kombes Rofiq memang aktif menjalin komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat. Ia bersilaturahmi dengan organisasi keagamaan seperti PCNU, PD Muhammadiyah, dan LDII, sekaligus membuka ruang dialog dengan komunitas seni dan budaya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga keamanan wilayah tidak cukup hanya dengan patroli dan penegakan hukum. Ia juga membutuhkan kedekatan emosional antara aparat dan masyarakat.
Banyuwangi sendiri dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya luar biasa. Tradisi Osing, kesenian Gandrung, hingga berbagai ritual adat menjadi bagian dari identitas yang terus dijaga oleh masyarakatnya.
Karena itu, pertemuan antara Kapolresta, para tokoh masyarakat, dan budayawan pada malam itu terasa seperti sebuah simbol. Ia adalah pertemuan dua dunia yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terpisah: dunia keamanan dan dunia kebudayaan.
Sebab dalam banyak hal, kebudayaan adalah benteng pertama bagi sebuah masyarakat. Ia menjaga nilai-nilai kebersamaan, mengajarkan penghormatan pada perbedaan, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap tanah tempat seseorang berpijak.
Di Banyuwangi, keamanan tidak hanya dijaga oleh aparat yang berseragam. Ia juga dijaga oleh para penyair yang menulis puisi, para seniman yang mencipta karya, para budayawan yang merawat ingatan sejarah, serta para aktivis yang menjaga agar kebenaran tetap berjalan di koridor yang semestinya.
Dan malam itu, di Rumah Kebangsaan yang sederhana, semua suara itu bertemu dalam satu percakapan panjang tentang Banyuwangi tentang tanah Blambangan yang terus berusaha menjaga dirinya melalui bahasa kebudayaan.(syaf)
