RADAR BLAMBANGAN.COM, | Jakarta — Pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 menuai apresiasi tinggi dari masyarakat. Tingkat kepuasan pemudik dilaporkan mencapai angka 85 persen, mencerminkan keberhasilan pengelolaan arus mudik dan balik tahun ini yang disebut sebagai salah satu yang terbesar sepanjang sejarah.
Dalam dialog publik, perwakilan Korlantas Polri, Irjen Pol Agus Suryono, menegaskan bahwa keberhasilan Operasi Ketupat tidak semata soal rekayasa lalu lintas, melainkan wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin keamanan, kenyamanan, hingga aspek sosial dan spiritual masyarakat selama momentum Ramadan, Idulfitri, hingga Hari Raya Nyepi.
“Operasi Ketupat bukan hanya mengatur arus kendaraan, tetapi memastikan keselamatan, keamanan, dan kelancaran mobilitas masyarakat. Ini bagian dari pelayanan negara secara menyeluruh,” ujarnya.
Salah satu faktor utama keberhasilan tahun ini adalah pendekatan berbasis kelancaran, bukan sekadar kecepatan. Polri menerapkan manajemen lalu lintas secara prediktif dengan memanfaatkan parameter pergerakan kendaraan secara real time. Skema rekayasa seperti contraflow dan one way diberlakukan secara bertahap hingga skala nasional untuk mengurai kepadatan.
Data menunjukkan, puncak arus mudik tahun ini mencapai angka tertinggi sepanjang pelaksanaan Operasi Ketupat, yakni lebih dari 315 ribu kendaraan. Sementara arus balik juga mencatat lonjakan signifikan di angka lebih dari 256 ribu kendaraan. Meski demikian, keduanya tetap dapat dikelola dengan baik berkat sistem prediksi dan respons cepat di lapangan.
Selain itu, pemanfaatan teknologi menjadi kunci penting. Sistem pemantauan berbasis digital, komunikasi terintegrasi, serta pemantauan jalur tol dan arteri secara langsung memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Sementara itu, akademisi sekaligus pakar transportasi, Profesor Wahyu Rudianto, menilai keberhasilan ini tidak lepas dari perencanaan matang berbasis pendekatan ilmiah. Ia menyebut, penggunaan analisis prediktif dan dukungan teknologi modern menjadi fondasi utama dalam merancang strategi pengamanan arus mudik.
“Perencanaan dilakukan tidak sekadar normatif, tetapi berbasis kajian akademik dan data sensitif. Ini yang membuat pelaksanaan di lapangan menjadi lebih terukur,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pelaksanaan Operasi Ketupat, mulai dari kepolisian, kementerian perhubungan, hingga sektor pariwisata dan pemangku kepentingan lainnya.
Dari sisi evaluasi, hasil survei menunjukkan tingkat penerimaan publik terhadap kebijakan yang diterapkan mencapai 93 persen. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa mayoritas masyarakat mendukung langkah-langkah rekayasa lalu lintas yang dilakukan, meskipun masih terdapat sebagian kecil yang perlu menjadi bahan evaluasi ke depan.
“Biasanya kebijakan lalu lintas memicu keluhan, tetapi tahun ini justru mendapat respons positif. Ini menunjukkan tata kelola yang semakin baik dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Keberhasilan Operasi Ketupat 2026 menjadi bukti bahwa sinergi antara perencanaan matang, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor mampu menghadirkan layanan publik yang efektif, khususnya dalam menghadapi lonjakan mobilitas berskala nasional.***
