RADAR BLAMBANGAN.COM, | Jawa Timur – Jejak sejarah tak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam ingatan, dalam silsilah keluarga, dan dalam narasi yang diwariskan lintas generasi. Kisah tentang asal-usul Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, kembali mengemuka melalui penelusuran literatur keluarga yang mengaitkan garis keturunannya dengan trah besar Jawa bahkan disebut bersambung hingga warisan kerajaan Majapahit.
Dikenal lahir di Surabaya pada 1901 dengan nama Raden Koesno Sosrodihardjo, Soekarno merupakan putra dari Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru yang dalam sejumlah literatur disebut memiliki keterkaitan dengan kalangan priyayi dan birokrat pada masa kolonial Hindia Belanda.
Dalam tradisi Jawa, penggunaan gelar “Raden” bukan sekadar nama, melainkan identitas sosial yang erat dengan lingkungan bangsawan atau elite administratif. Dari sini, berkembang penelusuran yang mengaitkan keluarga Soekarno dengan jaringan keturunan yang disebut-sebut memiliki hubungan historis dengan tokoh-tokoh birokrasi masa lalu, serta garis besar budaya yang berakar pada era Majapahit.
Namun, perjalanan sejarah keluarga ini tidak tunggal. Dalam dinamika sosial Jawa Timur, muncul diferensiasi yang kuat antara kelompok priyayi dan kelompok kiyai. Sebagian garis keluarga disebut tetap berada dalam tradisi kejawen dan struktur birokrasi, sementara sebagian lain bertransformasi menjadi kalangan ulama, yang dalam beberapa literasi dikaitkan dengan jalur dakwah Sunan Bonang.
Perbedaan ini kemudian membentuk karakter sosial wilayah. Kawasan yang dekat dengan pusat historis Majapahit seperti Mojokerto dan Sidoarjo dikenal dengan kultur priyayi. Sementara wilayah timur Jawa dikenal sebagai basis kuat tradisi keagamaan dan pesantren.
Fenomena ini mencerminkan realitas sosial yang pernah dipahami dan digaungkan oleh Soekarno sendiri bahwa bangsa Indonesia dibangun dari beragam latar belakang: budaya, kepercayaan, dan struktur sosial yang berbeda.
Hingga kini, identitas tersebut masih terasa dalam kehidupan masyarakat. Dalam satu garis keturunan, seseorang bisa dipandang sebagai priyayi di satu wilayah, namun di tempat lain dianggap sebagai bagian dari kalangan kiyai.
Narasi ini menjadi refleksi nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika bahwa perbedaan bukan untuk dipisahkan, melainkan untuk disatukan dalam satu identitas besar: Indonesia.***
