RADAR BLAMBANGAN.COM, | Banyuwangi – Langkah awal penuh makna ditunjukkan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIA Banyuwangi, Solichin, A.Md.IP., S.AP., M.H., dalam mengawali pengabdiannya di Bumi Blambangan. Tak memilih ruang formal, ia justru turun langsung menyusuri kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi sebuah simbol pendekatan humanis yang sarat pesan perubahan.
Di tengah hamparan alam yang asri, tepatnya di Cafe Sawah Gunung SAE Paswangi, Solichin menyatu dalam dialog hangat bersama masyarakat. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah strategis membaca denyut sosial sekaligus memetakan potensi wilayah sebagai fondasi program pembinaan ke depan.
Dengan sorot mata penuh optimisme, ia mengapresiasi harmoni antara keindahan alam dan fungsi pembinaan yang terbangun di kawasan tersebut. Baginya, SAE Paswangi bukan hanya ruang fisik, tetapi representasi harapan baru dalam proses asimilasi warga binaan.
“Banyuwangi memiliki karakteristik wilayah yang sangat impresif. SAE Paswangi ini adalah gambaran nyata bagaimana lingkungan yang tertata mampu menjadi kekuatan dalam mendukung proses pembinaan,” ungkapnya penuh keyakinan.
Lebih jauh, Solichin menegaskan komitmennya untuk membangun kepemimpinan berbasis kolaborasi. Ia menyadari, keberhasilan pemasyarakatan tidak bisa berjalan sendiri dibutuhkan sinergi kuat antara lembaga dan masyarakat.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk komunikasi dan kerja sama. Sinergitas adalah kunci agar program Lapas IIA Banyuwangi dapat berjalan selaras dengan kehidupan sosial masyarakat,” tegasnya.
Kehadiran Kalapas baru ini pun disambut hangat oleh warga. Sosoknya yang sederhana dan membumi meninggalkan kesan mendalam. Rio, salah satu warga sekitar, menyampaikan rasa hormat sekaligus harapannya.
“Beliau sosok yang ramah dan rendah hati. Kehadirannya memberi energi positif bagi kami. Selamat datang di Banyuwangi,” ujarnya.
Belusukan ini menjadi lebih dari sekadar kunjungan awal. Ia menjelma menjadi sinyal kuat bahwa kepemimpinan baru di Lapas IIA Banyuwangi akan berjalan dengan pendekatan yang lebih dekat, terbuka, dan menyentuh sisi kemanusiaan merajut harapan baru dari pinggiran menuju perubahan yang nyata.
Sumber: Rio Utomo
