RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI — Hidup tak selalu memberi jalan mulus. Kadang, seseorang justru ditempa lewat kehilangan, keterbatasan, bahkan luka yang datang bersamaan. Namun bagi Riza Purnamasari (41), atau yang akrab disapa Icha, semua badai itu bukan akhir, melainkan awal dari kemenangan yang sesungguhnya.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Icha sudah memulai perjuangannya. Menyiapkan dua anaknya berangkat sekolah, memastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi, lalu bergegas menjalani peran lain sebagai perempuan pekerja. Rutinitas itu berjalan nyaris tanpa jeda. Dari ibu, menjadi pencari nafkah. Dari pengasuh, menjadi tulang punggung keluarga.
Sejak berpisah pada 2019, Icha menjalani hidup sebagai ibu tunggal. Keputusan itu bukan tanpa luka. Namun di tengah keterpurukan, ia memilih tidak tumbang.
“Setiap hari masih dikasih nafas sama Allah, berarti masih ada kesempatan jadi lebih baik,” ujarnya pelan namun tegas.
Tak banyak yang tahu, di balik sosoknya yang kini tampak mapan, Icha pernah hidup dalam keterbatasan yang nyaris membuatnya menyerah. Ia pernah tinggal di satu kamar kos sempit bersama ibunya dan dua anaknya. Pernah mengantar anak sekolah dengan berjalan kaki karena tak memiliki kendaraan. Bahkan pernah meminjam sepeda motor satpam kantor demi bertahan menjalani hari.
Di tengah himpitan ekonomi, ia tak hanya bekerja sebagai sales di Auto2000 Banyuwangi, tetapi juga berjualan makanan demi menutup kebutuhan hidup dan membereskan utang keluarga.
“Pokoknya cari uang terus, yang penting halal,” katanya.
Namun dari perjuangan tanpa banyak keluhan itu, jalan hidup perlahan berubah. Konsistensi dan kerja keras membentuk Icha menjadi sosok tangguh di dunia otomotif. Dari yang awalnya tak paham menjual mobil, ia tumbuh menjadi perempuan yang mampu membangun kepercayaan pelanggan di industri yang keras dan kompetitif.
Puncaknya, mimpi masa remajanya yang nyaris mustahil, akhirnya menjadi nyata.
Setahun setelah masa-masa sulit itu, Icha terbang ke Paris kota yang ia impikan sejak SMP. Sebuah pencapaian yang bukan sekadar perjalanan luar negeri, tetapi simbol kemenangan atas luka panjang yang pernah ia lewati.
Namun di tengah pencapaian itu, satu prinsip hidupnya tak pernah berubah: anak-anak adalah prioritas.
Baginya, kerja penting, tetapi anak tetap nomor satu.
Di balik semua perjuangan itu, Icha mengaku pernah merasa malu dengan statusnya sebagai single parent. Pertanyaan sederhana seperti “suaminya di mana?” dulu menjadi hal yang ingin ia hindari. Tapi waktu mengubah segalanya.
Hari ini, ia tidak lagi hidup untuk menjelaskan dirinya kepada siapa pun.
Ia berdamai.
Ia berhenti berlari.
Ia berhenti membuktikan apa pun kepada orang lain.
Kini, Icha hanya ingin berjalan tenang, menemani anak-anaknya tumbuh, dan menikmati setiap fase hidup yang Tuhan titipkan.
“Selama ada Allah, aku baik-baik saja. Aku tenang. Aku bahagia,” tuturnya.
Bagi Icha, kemenangan bukan sesuatu yang riuh. Bukan tentang tepuk tangan atau pengakuan. Tapi tentang mampu bangkit dari air mata, bertahan dalam tekanan, dan berdamai dengan takdir.
Ia menyebut perjalanan hidupnya dalam satu kata: glory kemenangan.
Bagi Icha, makna Kartini hari ini pun mengalami pergeseran. Bukan lagi semata soal emansipasi seperti masa lalu, melainkan keberanian perempuan modern, terutama ibu tunggal, untuk melawan rasa takut, stigma, dan keraguan diri.
Ia percaya perempuan dibekali kekuatan lebih oleh Alloh swt. Bukan untuk mengeluh, tetapi untuk bangkit.
Pesannya sederhana, namun menghunjam:
Jangan merasa sendirian.
Jangan merasa paling kuat sampai lupa berserah.
Dan jangan pernah berhenti bersyukur.
Baginya, semua luka yang pernah hadir bukan hukuman, melainkan bentuk kepercayaan Alloh SWT.
Bahwa rezeki anak-anaknya dititipkan melalui dirinya.
Bahwa ia dipilih untuk menjadi kuat.
Dan bahwa perempuan, sesulit apa pun hidup menguji, selalu punya peluang untuk menang.
Karena terkadang, kemenangan sejati lahir justru ketika seseorang berhenti melawan keadaan… dan mulai percaya sepenuhnya kepada Alloh SWT .***
