RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Di antara hiruk-pikuk aktivitas Pasar Rogojampi, denyut kehidupan masyarakat Banyuwangi seakan berpadu dalam satu titik: Stasiun Rogojampi. Sejak pagi hingga petang, arus manusia tak pernah benar-benar berhenti mengantar pekerja, pelajar, pedagang, hingga pasien yang membutuhkan layanan kesehatan. Rel-rel yang membentang dari stasiun ini bukan sekadar jalur transportasi, tetapi telah menjadi penggerak ritme kehidupan.
Jejak peran strategis ini bukan hal baru. Berdiri sejak 1903 oleh Staatsspoorwegen, Stasiun Rogojampi awalnya menjadi bagian dari jalur distribusi hasil perkebunan menuju pelabuhan. Namun lebih dari satu abad kemudian, fungsi tersebut berevolusi. Dari pengangkut komoditas, kini menjadi simpul mobilitas masyarakat dan penggerak ekonomi kawasan.
Transformasi itu selaras dengan perkembangan wilayah. Kecamatan Rogojampi yang kini dihuni lebih dari 90 ribu jiwa menjadi salah satu kawasan dengan pergerakan paling dinamis di Banyuwangi. Letaknya yang berada di koridor penghubung antara pusat kota dan wilayah barat seperti Genteng dan Benculuk menjadikan kawasan ini sebagai titik temu berbagai aktivitas.
Dampaknya terlihat nyata di sekitar stasiun. Pasar Rogojampi tumbuh sebagai pusat perdagangan yang hidup, didukung kemudahan akses kereta api. Para pedagang dan pelaku usaha kecil kini dapat menjangkau pasar lebih luas dengan biaya distribusi yang lebih efisien. Mobilitas yang terukur membuat roda ekonomi berputar lebih stabil.
Keunggulan lainnya terletak pada konektivitas multimoda. Dengan jarak sekitar 8 kilometer ke Bandara Internasional Banyuwangi, Stasiun Rogojampi membuka akses perjalanan yang lebih cepat dan fleksibel. Perpaduan transportasi darat dan udara ini memberi nilai tambah, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.
Secara sosial, kemudahan akses ini memperpendek jarak antarwilayah. Aktivitas menuju sekolah, fasilitas kesehatan, hingga kegiatan sosial menjadi lebih terjangkau. Interaksi antar masyarakat pun semakin intens, memperkuat kohesi sosial di tengah mobilitas yang tinggi.
Di sisi lain, identitas lokal tetap terjaga. Bahasa Osing masih terdengar di sekitar stasiun, sementara tradisi seperti Kebo-keboan di Desa Aliyan terus hidup dan menarik perhatian pengunjung. Akses transportasi yang semakin baik justru memperluas jangkauan budaya lokal ke masyarakat yang lebih luas.
Tak hanya itu, Stasiun Rogojampi juga menjadi gerbang menuju destinasi unggulan Banyuwangi. Dari sini, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Alas Purwo, De Djawatan, hingga Pantai Pulau Merah. Kemudahan ini mendorong sektor pariwisata tumbuh lebih terintegrasi.
Pengalaman perjalanan pun semakin lengkap dengan ragam kuliner khas di sekitar stasiun, seperti sego cawuk, rujak soto, hingga pecel pitik. Kehadiran wisatawan dan mobilitas masyarakat memberikan dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha lokal.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa konektivitas transportasi memiliki dampak luas.
“Perjalanan yang semakin mudah membantu masyarakat menjalankan aktivitas dengan lebih efisien. Kedekatan stasiun dengan bandara juga membuka peluang usaha serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah,” ujarnya.
Saat ini, seluruh layanan kereta api dari dan menuju Banyuwangi berhenti di Stasiun Rogojampi. Mulai dari KA lokal Probowangi hingga KA jarak jauh seperti Wijayakusuma dan Blambangan Ekspres. Bahkan, kehadiran KA Sangkuriang relasi Bandung–Banyuwangi semakin memperluas konektivitas antardaerah.
Peningkatan kepercayaan masyarakat tercermin dari data operasional. Pada Triwulan I 2026, jumlah pelanggan naik mencapai 67.212 orang atau tumbuh 19,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara pelanggan turun tercatat 67.109 orang, meningkat 12,2 persen.
Angka tersebut menegaskan satu hal: Stasiun Rogojampi bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang. Ia telah menjelma menjadi nadi pergerakan yang menghubungkan ekonomi, sosial, budaya, hingga pariwisata dalam satu jaringan yang saling menguatkan.
“Kepercayaan masyarakat menjadi dorongan bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan. Kami berharap setiap perjalanan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutup Anne.***
