RADAR BLAMBANGAN.COM, | Banyuwangi – Gelaran pertandingan sepak bola di Banyuwangi kali ini tak sekadar menghadirkan tontonan di atas lapangan hijau, tetapi juga membawa dampak nyata bagi pelaku usaha kecil. Ketua PSSI Banyuwangi, Michael Edy Hariyanto, menegaskan komitmennya untuk menjadikan sepak bola sebagai penggerak ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM.
Saat meninjau langsung suasana pertandingan babak pertama, Michael melihat antusiasme tinggi dari para pedagang yang memanfaatkan momentum tersebut. Ia memastikan bahwa seluruh UMKM yang berjualan di area stadion tidak dikenakan biaya sewa lapak selama 40 hari ke depan.
“Kegiatan ini bukan hanya soal sepak bola. Saya ingin melihat dampaknya terhadap UMKM. Kalau hanya satu atau dua hari, manfaatnya mungkin terbatas. Tapi kalau 40 hari, ini bisa benar-benar membantu meningkatkan penghasilan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk menghadirkan lebih banyak event serupa dalam satu tahun ke depan. Tujuannya jelas: menciptakan ruang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi pelaku usaha kecil di Banyuwangi.
Dalam interaksinya dengan para pedagang, Michael juga menegaskan tidak boleh ada pungutan liar. Ia bahkan meminta para pedagang untuk langsung melapor jika ada pihak yang mencoba menarik biaya.
“Kalau ada yang narik, bilang saja Pak Michael bilang tidak bayar. Yang penting sampeyan bisa jualan dan menghasilkan,” tegasnya.
Kebijakan ini disambut positif oleh para pedagang. Salah satunya penjual jagung bakar yang mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Dengan harga jual sekitar Rp6.000 per porsi, ia berharap dagangannya laris selama event berlangsung.
Program ini menjadi bukti bahwa olahraga, khususnya sepak bola, dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi lokal. Tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
Ke depan, Michael berharap kegiatan seperti ini bisa terus digelar secara konsisten, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan sesaat, tetapi mampu menjadi fondasi penguatan ekonomi kerakyatan di Banyuwangi.***
