RADAR BLAMBANGAN.COM, | Jakarta, — Ketua Umum Fast Respon, Agus Flores, melontarkan pandangan yang menggugah sekaligus memantik diskusi tentang asal-usul manusia Indonesia. Dalam pernyataannya, ia mengaitkan sejarah geografi dunia, pergeseran daratan, hingga karakteristik fisik masyarakat Nusantara sebagai bukti bahwa Indonesia merupakan titik temu berbagai peradaban besar.
Agus Flores mengaku terinspirasi dari pernyataan terkait Negeri Yaman serta literatur geografi kuno yang menyebutkan bahwa ribuan tahun lalu, daratan Indonesia diduga pernah terhubung dengan wilayah besar seperti Cina, India, hingga kawasan Mongolia dan Yaman. Ia juga menyinggung teori pergeseran bumi yang menurutnya telah berlangsung selama ribuan tahun, membentuk kepulauan Nusantara seperti saat ini.
“Kalau kita lihat peta dan wajah masyarakat Indonesia hari ini, terlihat jelas adanya kemiripan dengan bangsa Cina, India, Arab, hingga Melanesia. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang percampuran peradaban,” ungkapnya.
Menurut Agus, wilayah Indonesia terbagi dalam dua pengaruh besar, yakni bagian barat yang cenderung terhubung dengan daratan Asia seperti Cina, India, dan Yaman, serta bagian timur yang memiliki kedekatan dengan Melanesia dan Australia, termasuk Papua.
Ia juga menyoroti istilah “Indo” yang menurutnya muncul dari percampuran berbagai ras tersebut. Dalam pandangannya, konsep ini sejalan dengan gagasan Soekarno yang menyebut Indonesia sebagai bangsa besar yang mempersatukan keragaman manusia.
“Indonesia ini bukan satu garis keturunan. Ini adalah hasil dari percampuran besar antara Indo dan Melanesia. Bahkan sejak zaman kolonial, sudah ada pengelompokan seperti pribumi, Indo, hingga Melanesia,” jelasnya.
Lebih jauh, Agus mengkritisi penggunaan istilah “pribumi” yang kerap digunakan tanpa pemahaman mendalam. Ia berpendapat bahwa semua manusia di Indonesia sejatinya memiliki akar dari berbagai bangsa besar dunia.
“Kalau bicara manusia tertua di Indonesia, mungkin kita bisa melihat Dayak dan Papua. Tapi bukan berarti mereka tidak memiliki hubungan dengan bangsa lain seperti Cina atau Melanesia Australia,” tegasnya.
Dalam refleksinya, Agus Flores menilai bahwa Indonesia sejatinya adalah ruang besar pertemuan manusia dari berbagai latar belakang, yang kemudian membentuk identitas unik sebagai bangsa.
Pernyataan ini pun menjadi ajakan terbuka bagi masyarakat untuk mengkaji ulang sejarah dengan pendekatan logika, ilmu pengetahuan, dan keterbukaan berpikir.
“Jangan mudah mengklaim siapa pribumi dan siapa bukan. Kita semua adalah bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia,” pungkasnya.
Salam penutup khas pun ia sampaikan, “Salam Makan Sagu,” sebagai simbol persatuan dari timur hingga barat Nusantara. (Mahalik)
