RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Menjelang Idul Adha, yang seharusnya menjadi masa panen bagi peternak, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Harga kambing di Banyuwangi dilaporkan merosot tajam, sementara biaya produksi terus merangkak naik.
Kondisi ini membuat peternak berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi, harga jual tidak menguntungkan, di sisi lain biaya pakan, perawatan, hingga operasional kandang semakin tinggi.
Sejumlah peternak mengeluhkan sepinya pembeli serta rendahnya daya beli masyarakat. Transaksi di pasar hewan pun terpantau lesu, jauh dari kondisi normal menjelang hari raya kurban.
“Sekarang bukan untung, bisa balik modal saja sudah syukur,” ujar seorang peternak.
Masuknya kambing dari luar daerah dengan harga lebih murah turut memperparah situasi. Peternak lokal menilai kondisi ini memicu persaingan tidak sehat yang semakin menekan harga di tingkat bawah.
Minimnya intervensi pasar juga menjadi sorotan. Peternak berharap pemerintah daerah dan instansi terkait tidak tinggal diam menghadapi anomali harga yang terjadi setiap tahun namun tak kunjung mendapat solusi konkret.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin banyak peternak kecil gulung tikar. Padahal sektor peternakan rakyat menjadi salah satu penopang ekonomi pedesaan.
Momentum Idul Adha yang seharusnya menjadi berkah, kini justru berubah menjadi beban bagi para peternak yang harus bertahan di tengah ketidakpastian pasar. (Maha)
