RADAR BLAMBANGAN.COM, | Penjajahan paling berbahaya bukanlah rantai di kaki, melainkan rantai di kepala. Bangsa yang dipaksa tunduk terlalu lama akhirnya lupa cara bertanya. Mereka menerima perintah sebagai nasib, menerima ketidakadilan sebagai aturan, dan menerima penguasa sebagai sesuatu yang tidak boleh digugat. Di sinilah manusia kehilangan derajatnya.
Kalau semua tunduk tanpa tanya, untuk apa manusia dikaruniai otak?
Otak bukan hiasan tubuh. Ia adalah alat pembebasan. Dengan otak, manusia membedakan benar dan salah, adil dan zalim, merdeka dan diperbudak. Maka kekuasaan yang takut pada pertanyaan sebenarnya bukan kekuasaan yang kuat, melainkan kekuasaan yang rapuh. Sebab satu pertanyaan yang jujur kadang lebih berbahaya daripada seribu senapan.
Rakyat yang berpikir tidak mudah dibohongi. Karena itu, penjajah selalu lebih senang melihat rakyat hafal daripada paham. Mereka ingin manusia patuh, bukan sadar. Sekolah dijadikan pabrik pegawai, bukan tempat melahirkan manusia merdeka. Agama dipakai untuk meninabobokan, adat dipakai untuk membungkam, dan ketakutan dipakai untuk memelihara kekuasaan.
Tetapi sejarah tidak pernah digerakkan oleh mereka yang hanya tunduk. Perubahan lahir dari orang-orang yang berani bertanya: mengapa kita miskin di tanah yang kaya? Mengapa segelintir orang hidup mewah dari keringat banyak orang? Mengapa rakyat harus diam ketika diperlakukan tidak adil?
Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling patuh, melainkan bangsa yang paling berani berpikir.
Dan selama manusia masih memakai otaknya, tidak ada kekuasaan yang bisa berdiri abadi di atas kebohongan.
*Salam….Lian*
