RADAR BLAMBANGAN.COM, | Kombes Pol. Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Kapolresta Banyuwangi beberapa hari lagi, setelah kurang lebih satu tahun tiga bulan pengabdian. Ia meninggalkan Banyuwangi bukan dengan gema perpisahan yang riuh, melainkan dengan kesan tenang yang menetap. Sebuah ketenangan yang membuat banyak orang sadar: keamanan tidak selalu datang dengan suara keras, tetapi sering lahir dari kehadiran yang bersahaja.
Selama masa kepemimpinannya, Banyuwangi berjalan dalam suasana yang relatif kondusif. Tidak selalu tanpa masalah—sebab hidup tidak pernah steril dari gesekan—tetapi terawat. Ada rasa aman yang tidak dibunyikan dengan sirene. Ada ketertiban yang tidak dipaksakan dengan nada tinggi. Orang pulang malam tanpa waswas berlebih. Anak-anak bermain sore tanpa kecemasan yang diwariskan oleh ketakutan. Barangkali, inilah bentuk keamanan paling hakiki: ketika manusia tidak merasa sedang diawasi, tetapi dijaga.
Nama Rama Samtama Putra di Banyuwangi tidak pernah beredar sebagai kabar keras. Ia lebih sering hadir sebagai bisik yang menenangkan. Seperti hujan kecil di sore hari: tidak mengagetkan, tidak menuntut perhatian, tetapi membuat udara terasa jinak. Di kota yang terbiasa dengan riuh festival, iring-iringan wisata, dan arus manusia yang tak pernah benar-benar diam, ketenangan justru menjadi peristiwa langka. Dan Rama memilih berada di sana: di wilayah sunyi yang jarang diliput, tetapi justru menentukan arah.
Orang sering mengira stabilitas lahir dari seragam, pangkat, dan instruksi. Dari barisan yang rapi dan suara komando yang tegas. Seolah ketertiban adalah hasil bentakan yang berhasil, atau disiplin yang dipaksakan. Padahal, dalam banyak hal, keteraturan justru tumbuh dari hal-hal yang lebih sunyi: dari kesediaan mendengar, dari kesanggupan menahan lidah sebelum bicara, dari kebiasaan duduk tanpa tergesa.
Dalam laku religius, mendengar adalah ibadah paling awal. Ia mengajarkan kerendahan hati—bahwa kebenaran tidak selalu datang dari mulut kita sendiri. Dari sikap inilah ketertiban perlahan menemukan akarnya. Dari pendekatan budaya yang menghormati ingatan. Dari pendekatan seni, ketika puisi dibaca bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk merawat rasa. Membaca puisi, dalam pengertian ini, bukan sekadar kegiatan estetik, melainkan latihan batin: mengendapkan kata, menimbang makna, dan belajar diam sebelum menilai.
Kesabaran menunggu kopi mendingin sebelum diminum barangkali terdengar remeh. Namun justru di situlah kebijaksanaan bekerja. Sebab hidup, seperti kopi, sering melukai ketika diteguk terlalu cepat. Menunggu adalah cara halus untuk mengakui batas diri. Cara sederhana untuk mengatakan bahwa tidak semua hal harus segera dikuasai. Kemampuan menahan diri untuk tidak selalu menjadi pusat adalah bentuk asketisme paling modern. Di tengah dunia yang gemar menonjolkan diri, mundur selangkah adalah tindakan spiritual. Dan di situlah, agaknya, Rama Samtama Putra bekerja. Ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai panggung, melainkan sebagai ruang pengabdian.
Bukan semata di ruang rapat atau apel resmi—tempat kata-kata sering mengeras—melainkan di ruang-ruang sosial yang kerap luput dari peta kekuasaan: di pojok Taman Blambangan, di meja warung kopi, atau dalam forum diskusi kecil bersama tokoh budaya dan sesepuh adat. Di tempat-tempat itulah ketertiban dirawat sebagai rasa, bukan dipaksakan sebagai aturan. Dan barangkali, justru dari sanalah keamanan menemukan wajahnya yang paling manusiawi.
Latar hidupnya ikut membentuk laku itu. Lahir di Sidoarjo, 22 Juli 1979, dari keluarga sederhana—ayahnya bekerja di bengkel cat mobil, ibunya seorang guru taman kanak-kanak—Rama tumbuh dalam dunia yang mengajarkannya bahwa kehidupan tidak selalu berlapis kemewahan, tetapi selalu menuntut kesungguhan. Ia menempuh pendidikan di Akpol, melanjutkan hingga meraih gelar Magister Sains, Magister Hukum, dan kemudian Doktor. Namun pendidikan formal, seperti juga jabatan, hanya memberi kerangka. Isi sejatinya ditentukan oleh bagaimana seseorang memaknai manusia lain.
Ada satu peristiwa yang bagi saya lebih penting dari sekian banyak laporan kinerja. Ketika Lentera Sastra Banyuwangi—Lensa Banyuwangi—menggelar kegiatan baca puisi, sang Kapolresta datang. Bukan untuk membuka acara atau memberi sambutan normatif yang mudah ditebak kalimatnya. Ia membaca puisi. Dengan suara yang tidak ingin menggurui. Dengan tubuh yang tidak sedang mempertontonkan kuasa. Ia berdiri sebagai manusia biasa yang pernah, jauh sebelum seragam itu melekat, jatuh cinta pada puisi sejak sekolah dasar. Banyuwangi tercenung. Bukan karena puisinya sempurna—sastra tidak pernah meminta kesempurnaan—melainkan karena keberaniannya menanggalkan jarak. Baru kali itu seorang Kapolresta membaca puisi di hadapan publik sastra. Dan anehnya, tidak ada yang merasa sedang “diayomi.” Yang ada justru perasaan sedang diajak setara. Seolah kami duduk di satu saf yang sama, tanpa imam, tanpa makmum. Hanya manusia-manusia yang sedang belajar memahami hidup melalui kata.
Dalam tradisi religius mana pun, kerendahan hati selalu menjadi pintu utama kebijaksanaan. Orang yang bersedia mendengar biasanya lebih dekat pada kebenaran ketimbang mereka yang gemar memerintah. Puisi, dalam hal ini, bukan hiasan. Ia adalah latihan batin. Membaca puisi di ruang publik, bagi seorang pejabat, adalah pengakuan diam-diam bahwa kekuasaan pun perlu ditundukkan pada kemanusiaan.
Ketika kabar mutasi akhirnya tiba, rasa kehilangan itu hadir pelan. Tidak meledak, tidak riuh. Ia datang seperti kehilangan kursi di beranda: benda kecil, nyaris remeh, tetapi selalu kita cari saat senja. Baru terasa penting justru ketika ia tak lagi di tempatnya. Begitulah perpisahan bekerja—diam-diam menguji seberapa dalam seseorang pernah menjadi bagian dari keseharian kita. Para tokoh budaya dan sesepuh adat kemudian duduk bersama. Tanpa SK. Tanpa telegram. Tanpa protokol. Tidak ada meja panjang, tidak ada kursi berjarak. Hanya tikar, kopi hangat, dan percakapan yang mengalir pelan. Sebab adat, sebagaimana kita tahu, lebih tua dari negara. Ia lahir sebelum segala hal diberi nomor dan stempel. Dari perbincangan itulah lahir sebuah kesepakatan sunyi: memberikan kehormatan sebagai Warga Kehormatan Suku Osing kepada Rama Samtama Putra. Rencana itu sesungguhnya telah lama dibicarakan, jauh sebelum kabar perpindahan beredar. Mutasi hanyalah penanda waktu, bukan pemicu niat.
Penghormatan itu bukan basa-basi. Ia lahir dari laku. Dari cara Rama menghormati orang lain tanpa memilah latar. Dari kebiasaan duduk setara, ngopi bareng, tertawa dengan bahasa sehari-hari, tanpa merasa perlu menjaga jarak kuasa. Orang sering tidak menyangka bahwa lelaki santai itu adalah Kapolresta. Dan justru di situlah kewibawaannya tumbuh: bukan karena ditakuti, tetapi karena dihormati. Dalam logika spiritual, wibawa memang tidak pernah lahir dari tekanan, melainkan dari kehadiran yang utuh—hadir sebagai manusia, sebelum hadir sebagai pejabat.
Upacara adat pun digelar. Tumpeng serakat dihidangkan. Bukan sekadar sajian, melainkan simbol yang sarat makna. Dalam tradisi Osing, tumpeng serakat bukan hanya tentang nasi yang mengerucut ke atas, melainkan tentang perjalanan hidup manusia: dari hamparan bawah yang luas menuju satu titik puncak—menuju Yang Maha Tunggal. Ia mengajarkan arah, sekaligus batas. Kata serakat mengandung makna kebersamaan dan persetujuan batin, ikatan yang tidak diucapkan dengan suara keras. Lauk-pauk yang mengelilinginya melambangkan keragaman laku dan peran manusia yang saling menopang, semuanya mengarah ke pusat makna yang sama.
Doa-doa dilangitkan dengan cara Osing—cara yang tidak pernah tergesa. Ada jeda. Ada keheningan. Ada ruang bagi napas untuk menemukan iramanya sendiri. Dalam keheningan itulah orang belajar menerima bahwa segala yang datang pada akhirnya akan pergi. Bahwa jabatan hanyalah persinggahan. Bahwa yang tinggal bukan nama di papan, melainkan jejak di ingatan. Nilai kesakralan upacara itu jauh melampaui piagam resmi. Sebab ini bukan penghormatan dari meja birokrasi, melainkan dari ingatan kolektif. Dari rasa yang tumbuh perlahan. Dari kesadaran bersama bahwa ada tamu yang telah datang dengan sopan, duduk dengan santun, dan kini pamit dengan meninggalkan kebaikan.
Banyuwangi paham, ia bukan terminal akhir. Karier seseorang tidak bisa ditahan oleh kerinduan sebuah kota. Harapan kami sederhana: semoga penggantinya kelak juga mau duduk, mau mendengar, mau berdiskusi tanpa nada tinggi. Mau menganggap puisi, kopi, dan percakapan remeh sebagai bagian dari kerja menjaga negeri. Sebab Banyuwangi tidak pernah meminta banyak. Ia hanya ingin diperlakukan sebagai rumah. Dan Rama Samtama Putra, selama satu tahun tiga bulan itu, telah bersikap seperti tamu yang tahu diri—datang dengan sopan, duduk dengan santun, dan pergi dengan meninggalkan kenangan.
Di kota ini, ia tidak akan dikenang semata sebagai Kapolresta. Ia akan dikenang sebagai seseorang yang pernah membaca puisi, di antara kami. Dan kadang, dalam hidup yang fana, itulah bentuk pengabdian yang paling abadi: dikenang bukan karena jabatan, melainkan karena kemanusiaan.
Syafaat ; Ketua Lentera Sastra Banyuwangi
