Oleh:
Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC.
RADAR BLAMBANGAN.COM, | Wacana mengenai kewajiban calon manajer koperasi untuk mengikuti pelatihan militer perlu dilihat secara kritis dari perspektif pembangunan karakter dan kepemimpinan. Pendidikan militer memang memiliki nilai positif dalam membentuk kedisiplinan, ketahanan mental, kepatuhan terhadap aturan, serta kemampuan bekerja dalam tim. Namun, perlu dipahami bahwa karakter, integritas, dan kejujuran tidak hanya dibentuk melalui tekanan sistem, tetapi melalui kesadaran moral, nilai etika, dan internalisasi tanggung jawab pribadi.
Pengalaman menunjukkan bahwa seseorang yang pernah mengikuti pendidikan atau pelatihan militer tidak selalu otomatis memiliki karakter yang kuat ketika berada dalam ruang publik maupun jabatan kepemimpinan. Ada individu yang memiliki latar belakang disiplin tinggi, tetapi ketika menghadapi godaan kekuasaan, kepentingan ekonomi, atau konflik kepentingan, tetap dapat kehilangan nilai kejujuran dan integritas. Artinya, pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui latihan fisik dan aturan yang ketat, melainkan membutuhkan pembinaan nilai secara berkelanjutan.
Kepemimpinan koperasi pada hakikatnya bukan hanya membutuhkan figur yang mampu menjalankan perintah dan prosedur, tetapi membutuhkan pemimpin yang memiliki orientasi pelayanan, transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan kepada anggota. Koperasi adalah institusi ekonomi yang berbasis kepercayaan, sehingga kualitas moral pengelola menjadi fondasi utama. Tanpa integritas, sistem sebaik apa pun dapat kehilangan tujuan sosialnya.
Pelatihan militer dapat menjadi salah satu instrumen pembentukan disiplin, tetapi tidak boleh dianggap sebagai solusi tunggal untuk membangun manusia berkarakter. Negara perlu memastikan bahwa setiap proses pendidikan kepemimpinan juga memasukkan aspek etika, spiritualitas, tanggung jawab sosial, budaya antikorupsi, serta kesadaran bahwa jabatan adalah amanah, bukan sekadar posisi kekuasaan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan terletak pada seragam apa yang pernah dikenakan, melainkan pada nilai yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang bukan hanya kuat secara mental, tetapi juga bersih dalam perilaku, konsisten dalam prinsip, dan mampu mempertahankan kejujuran ketika tidak ada pengawasan. Karena karakter sejati terlihat bukan saat seseorang berada dalam barisan, tetapi ketika ia memiliki kesempatan untuk menyalahgunakan kewenangan namun memilih tetap benar.
HS.
