RADAR BLAMBANGAN.COM, | Kendari, Selasa, (7/7/2026) – Di balik ketegangan pengejaran seorang buronan residivis kasus penggelapan dan pencurian kendaraan bermotor berinisial AR (26), sebuah drama kemanusiaan yang menyayat hati justru tersingkap di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Tim gabungan URC Buser 77 Satreskrim Polresta Kendari bersama Intelmob Polda Sultra awalnya mendatangi lokasi tersebut untuk melakukan pengembangan penyelidikan. Namun, bukan petunjuk kejahatan atau barang bukti yang mereka dapati, melainkan potret pilu sebuah keluarga yang ditinggalkan.
Di dalam rumah sepi itu, polisi menemukan istri terduga pelaku bersama anaknya yang berusia lima tahun penyandang autisme. Kondisi keduanya sangat memprihatinkan.
“Kamu sehat, Sudah makan, Dek?” tanya seorang petugas dengan lembut.
Pertanyaan sederhana itu seketika meruntuhkan pertahanan sang ibu muda. Tangisnya langsung pecah di hadapan para aparat. Ia mengaku sudah dua hari berturut-turut dirinya dan sang anak sama sekali tidak menyentuh makanan. Selama itu pula, hanya air putih yang dijadikan pengganjal perut untuk bertahan hidup.
Penasaran, petugas melangkah ke area dapur. Pemandangan miris kembali tersaji, dapur tersebut benar-benar kosong melompong tanpa ada sebutir beras pun.
Melihat penderitaan di depan mata, naluri kemanusiaan petugas Kepolisian ini langsung bergerak. Tanpa memedulikan tugas utama sejenak, anggota kepolisian bergegas menuju warung terdekat. Mereka memborong beras, telur, air mineral, popok, hingga kebutuhan pokok lainnya untuk ibu dan anak tersebut.
Tak sampai di situ, Kasat Reskrim Polresta Kendari, Kompol Welliwanto Malau, yang tersentuh melihat kondisi anak autis tersebut, spontan merogoh kocek pribadinya demi menebus obat-obatan yang sangat dibutuhkan sang bocah.
Sadar bahwa sang ibu tidak lagi memiliki pegangan hidup di Kendari, pihak kepolisian juga memfasilitasi seluruh biaya kepulangan mereka ke kampung halamannya di Baubau agar bisa berkumpul dan mendapat dukungan dari keluarga besar.
Aksi spontan ini menjadi bukti nyata bahwa di balik seragam tegas dan tugas menegakkan hukum, Polri tetap memiliki sisi humanis yang kental. Tugas polisi bukan sekadar memburu pelaku kejahatan, melainkan juga hadir sebagai pelindung, pengayom, dan penolong bagi masyarakat yang sedang berada di titik terendah dalam hidup mereka.***
