RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI, (06/01/2026) – Aktivis filsafat Raden Teguh Firmansyah menandai prosesi neton putra Sultan dengan menggelar acara potong tumpeng bersama awak media, sebagai wujud rasa syukur sekaligus refleksi nilai-nilai budaya dan kebijaksanaan Jawa.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana sederhana namun sarat makna tersebut dihadiri sejumlah jurnalis dari berbagai media. Prosesi potong tumpeng menjadi simbol doa, harapan, dan keberkahan bagi sang anak, sekaligus penegasan pentingnya tradisi lokal dalam menjaga keseimbangan antara spiritualitas, budaya, dan kehidupan modern.
Raden Teguh Firmansyah menuturkan bahwa tradisi neton bukan sekadar perhitungan hari kelahiran dalam penanggalan Jawa, melainkan momentum reflektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur sejak dini. Filsafat Jawa, menurutnya, mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang harus terus dirawat di tengah arus modernisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Raden Teguh Firmansyah turut menyampaikan doa dan harapannya bagi sang putra. Ia berharap anak tersebut senantiasa diberikan kesehatan, tumbuh menjadi pribadi yang sholeh, berakhlak mulia, serta kelak mampu menjadi anak yang berguna bagi orang tua, agama, nusa, dan bangsa.
“Semoga selalu sehat, menjadi anak sholeh, berbakti kepada orang tua, serta kelak memberi manfaat luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Raden Teguh Firmansyah.
Ia juga menekankan peran media sebagai mitra strategis dalam menjaga dan merawat nilai-nilai kearifan lokal agar tetap hidup dan relevan bagi generasi muda. Melalui pemberitaan yang edukatif dan berimbang, tradisi budaya dinilai mampu menjadi sumber pembelajaran sosial dan filosofis bagi masyarakat luas.
Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah, mencerminkan semangat kebersamaan serta komitmen untuk terus melestarikan tradisi Jawa sebagai bagian dari identitas bangsa.***
