RADAR-BLAMBANGAN.COM, | PURWOKERTO – Siapa sangka, dari balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto, lahir produk yang mampu menembus pasar internasional.
Bukan sekadar hasil pembinaan, Coco Sheet produksi Warga Binaan Lapas Purwokerto kini resmi dikirim ke industri kasur di Tiongkok. Sebanyak 400 lembar Coco Sheet dilepas untuk pasar internasional melalui kerja sama dengan PT Chewy Louis, Sabtu (8/8/2026).
Momentum tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan kemandirian di lingkungan Pemasyarakatan tidak berhenti pada pemberian keterampilan, tetapi mulai diarahkan menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi dan mampu bersaing di pasar global.
Pelepasan produk tersebut dihadiri langsung Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Mashudi, bersama jajaran Pimpinan Tinggi Pratama Ditjenpas.
Coco Sheet merupakan lembaran berbahan sabut kelapa yang dipadatkan dan digunakan sebagai alas dasar kasur, khususnya sebagai penyangga sebelum lapisan busa maupun pegas.
Produksi Coco Sheet di Lapas Purwokerto telah berjalan sekitar dua bulan dengan melibatkan 15 Warga Binaan. Dari tangan mereka, bahan berbasis sabut kelapa tersebut diolah menjadi produk bernilai ekonomi yang kini memiliki tujuan pasar hingga ke Tiongkok.
Dirjenpas Mashudi memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan menembus pasar internasional menjadi indikator bahwa program pembinaan kemandirian di Lapas mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
“Apresiasi kepada Lapas Purwokerto atas capaian ekspor 400 pcs Coco Sheet ke Tiongkok. Ini menjadi bukti hasil pembinaan kemandirian di Lapas mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi dan memiliki pasar di tingkat internasional,” ujar Mashudi.
Bukan Sekadar Produksi, Tapi Bekal Masa Depan
Kepala Lapas Kelas IIA Purwokerto, Aliandra Harahap, menegaskan pihaknya akan terus mengembangkan program pembinaan kemandirian yang produktif, berkelanjutan, sekaligus berorientasi pada kebutuhan pasar.
Menurutnya, keterlibatan Warga Binaan dalam proses produksi bukan hanya untuk menghasilkan produk, tetapi juga menjadi bagian dari proses mempersiapkan mereka agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.
“Capaian ini merupakan hasil kerja sama dan komitmen seluruh jajaran dalam menghadirkan program pembinaan kemandirian yang memberikan manfaat nyata bagi Warga Binaan. Kami akan terus mendorong pengembangan produk-produk unggulan agar makin berkualitas dan menjangkau pasar yang lebih luas,” tegas Aliandra.
Langkah Lapas Purwokerto tersebut sekaligus memperlihatkan wajah lain Pemasyarakatan: Lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani masa pidana, tetapi juga ruang pembentukan keterampilan dan kemandirian.
Menariknya, ekspor Coco Sheet bukan kerja sama internasional pertama yang dilakukan Lapas Purwokerto bersama PT Chewy Louis. Sebelumnya, produk mainan anjing hasil pembinaan Warga Binaan juga telah dipasarkan ke kawasan Eropa.
Dengan pelepasan 400 pcs Coco Sheet ke Tiongkok, Lapas Purwokerto kembali menunjukkan bahwa produk hasil pembinaan dari balik jeruji pun mampu menembus pasar global.
Program pembinaan kemandirian pun kini tidak sekadar berbicara tentang keterampilan, tetapi mulai bergerak menuju produktivitas, nilai ekonomi, dan kesiapan Warga Binaan untuk kembali mandiri di tengah masyarakat.***
