Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC.
RADAR-BLAMBANGAN.COM, | Komunitas Home Schooling Banyuwangi yang diwakili oleh Widhayu, Worship Ady, Niken, Stevy, Sara, Satria, Arra, Amini, Fadlan dan Wonogiri yang diwakili oleh Yudie, Awal, Gaga, serta Izzy anak muda asli Sapeken yang sedang menempu pendidikan Hukum di Universitas Islam Bandung bersama BNewme yang dipimpin oleh founder-nya, Akhfa, membangun sebuah gerakan sosial-edukatif melalui tema “Merdeka di Tanah Nusantara 2 ”. Gerakan ini hadir di tengah masyarakat Pulau Saseel, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, bukan sekadar sebagai kegiatan sosial, tetapi sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap pembangunan manusia melalui pendidikan. Kehadiran mereka menjadi representasi bahwa pendidikan tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas, melainkan merupakan proses kehidupan yang berlangsung di dalam keluarga, lingkungan sosial, komunitas, dan masyarakat.
Pendidikan dalam perspektif pembangunan manusia memiliki dimensi yang sangat luas. Pendidikan bukan hanya persoalan kemampuan membaca, menulis, berhitung, atau memperoleh ijazah, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan karakter, kemampuan berpikir kritis, kecakapan sosial, kesadaran lingkungan, kesehatan, literasi digital, kemandirian ekonomi, serta kemampuan masyarakat memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Karena itu, edukasi kepada masyarakat Pulau Saseel menjadi sebuah langkah strategis untuk membangun kesadaran bahwa keterbatasan geografis tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi cita-cita dan masa depan anak-anak. Setiap anak Nusantara, di mana pun ia dilahirkan dan dibesarkan, memiliki hak untuk memperoleh kesempatan belajar, berkembang, bermimpi, dan berkontribusi bagi bangsa.
Kolaborasi antara komunitas Home Schooling Banyuwangi, komunitas dari Wonogiri, dan BNewme menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat untuk menghadirkan perubahan. Model pendidikan yang dikembangkan tidak harus selalu bersifat formal dan institusional, tetapi dapat hadir melalui keteladanan, dialog, berbagi pengalaman, literasi, kegiatan sosial, pengenalan lingkungan, serta pemberdayaan keluarga. Dalam konteks ini, keluarga menjadi fondasi pertama pendidikan, sekolah menjadi ruang pengembangan pengetahuan dan kompetensi, sedangkan masyarakat menjadi laboratorium kehidupan tempat nilai-nilai pendidikan dipraktikkan secara nyata. Sinergi ketiga lingkungan tersebut sangat penting agar pendidikan tidak berhenti pada teori, tetapi menghasilkan manusia yang memiliki karakter, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.
“Merdeka di Tanah Nusantara 2” dengan demikian dapat dipahami sebagai sebuah gerakan yang menempatkan pendidikan sebagai instrumen pembebasan dan pemberdayaan. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga merdeka dari keterbatasan pengetahuan, rendahnya literasi, ketidakberdayaan sosial, dan paradigma bahwa masyarakat di wilayah kepulauan tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Upaya mengedukasi masyarakat Pulau Saseel merupakan pesan bahwa pembangunan pendidikan harus menjangkau seluruh wilayah Nusantara. Semangat tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat tidak harus selalu menunggu negara atau institusi tertentu bergerak, sebab komunitas dan para pendidik juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil bagian dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menurut Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC., sebagai penggiat Home Schooler Banyuwangi, “Hal yang sangat penting dikerjakan oleh para pendidik di mana pun berada untuk menghadirkan pendidikan sebagai gerakan kemanusiaan. Pendidik tidak boleh hanya berpikir tentang sekolah, kurikulum, nilai, dan ijazah, tetapi harus memiliki kepekaan terhadap realitas masyarakat. Ketika seorang pendidik bersedia datang ke wilayah yang jauh, mendengarkan masyarakat, berbagi pengetahuan, dan menanamkan harapan kepada anak-anak, pada saat itulah pendidikan menemukan makna sejatinya. Merdeka di Tanah Nusantara harus dimulai dari kemerdekaan berpikir, kemerdekaan belajar, dan kemerdekaan setiap anak untuk memiliki masa depan. Karena itu, gerakan edukasi seperti ini perlu terus dikembangkan agar pendidikan benar-benar menjadi milik seluruh masyarakat Indonesia, dari kota hingga pelosok kepulauan Nusantara.”
HS.
