RADAR-BLAMBANGAN.COM, | JEMBRANA, BALI – Praktik pembelian BBM bersubsidi yang diduga menyalahi ketentuan kembali menjadi sorotan. Kepolisian Resor Jembrana mengungkap aksi seorang pria berinisial MA (26) yang diduga “memborong” Pertalite hingga 200 liter dalam sehari untuk kemudian dijual kembali demi meraup keuntungan.
Kasus ini tak berhenti pada penangkapan pelaku. Polisi kini juga mendalami dugaan keterlibatan petugas SPBU yang diduga mengetahui atau terkait dengan pola pembelian BBM bersubsidi tersebut.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jembrana AKP Gede Alit Darmana mengatakan pihaknya telah mengungkap kasus pembelian BBM bersubsidi yang diduga melanggar hukum.
“Kami mengungkap kasus pembelian BBM bersubsidi yang melanggar hukum. Terkait dugaan keterlibatan petugas SPBU, kami akan melakukan pendalaman kasus ini,” ujar Gede Alit di Negara, Jumat. (14/8/2026).
Kapolres Jembrana AKBP Cheery Sinta Maygrand Simamora mengungkapkan, MA diduga mampu mendapatkan hingga 200 liter Pertalite setiap hari dengan menggunakan mobil pikap.
Modusnya terbilang berulang. Dalam sehari, tersangka disebut melakukan pengisian BBM hingga lima kali menggunakan kartu atau kode QR BBM bersubsidi yang berbeda-beda.
BBM yang terkumpul kemudian tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan pribadi. Sebagian diduga dijual secara eceran, sementara sebagian lainnya disalurkan kepada pengecer dengan keuntungan sekitar Rp2.000 per liter.
Polisi bahkan melakukan pembuntutan terhadap aktivitas MA. Petugas mengikuti tersangka sejak melakukan pengisian Pertalite berulang kali di SPBU hingga membawa BBM tersebut ke rumahnya.
Di rumah, Pertalite dari dalam tangki mobil pikap kemudian dipindahkan menggunakan selang ke sejumlah jeriken.
Aksi tersebut akhirnya terhenti ketika polisi menangkap MA saat sedang memindahkan BBM.
“Dia kami tangkap saat sedang melakukan itu,” kata Gede Alit.
Dari hasil pemeriksaan sementara, MA mengaku telah menjalankan modus tersebut selama kurang lebih empat bulan.
Dalam pengungkapan perkara ini, polisi menyita satu unit mobil pikap, lima lembar kode QR BBM bersubsidi, serta sejumlah barang bukti lainnya.
Kini perhatian penyidik tidak hanya tertuju kepada MA. Dugaan adanya pihak lain yang membantu atau mengetahui pola pembelian BBM bersubsidi tersebut masih menjadi bagian dari pendalaman polisi.
Pertanyaannya, bagaimana pembelian Pertalite hingga ratusan liter sehari bisa berlangsung berulang kali? Polisi masih menelusuri seluruh rantai praktik tersebut, termasuk dugaan keterlibatan petugas SPBU.
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bahwa BBM bersubsidi diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak. Polisi memastikan proses penyelidikan akan terus dikembangkan untuk mengungkap apakah terdapat pihak lain yang terlibat.***
