Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC.
RADAR-BLAMBANGAN.COM, | Pendidikan pada hakikatnya tidak boleh berhenti pada batas geografis, kondisi ekonomi, maupun keterbatasan fasilitas. Semangat inilah yang mempertemukan BNEWME yang dipimpin Akhfa, Komunitas Home Schooling Sahabat Becik Banyuwangi yang diwakili Widhayu, Niken, Stevy, Fadlan, Worship, Arra, Sara, dan Satria, serta Komunitas Home Schooling Wonogiri yang diwakili Yudi, Awwal, dan Gagah, bersama SDN 2 Saseel, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura. Kolaborasi tersebut merupakan wujud nyata kepedulian terhadap pendidikan anak-anak di wilayah kepulauan, khususnya dalam membangun budaya membaca dan meningkatkan motivasi belajar di tengah keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan. Kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan buku, tetapi membawa pesan bahwa setiap anak Indonesia memiliki hak yang sama untuk bermimpi, belajar, bertumbuh, dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensinya.
Kehadiran komunitas home schooling dari Banyuwangi dan Wonogiri di SDN 2 Saseel memiliki makna pedagogis yang penting. Anak-anak tidak hanya membutuhkan ruang belajar formal, tetapi juga membutuhkan pengalaman, teladan, interaksi, serta lingkungan yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu. Buku yang diberikan bukan sekadar benda yang memenuhi rak perpustakaan, melainkan jendela pengetahuan yang dapat membuka cakrawala berpikir anak-anak Saseel tentang dunia yang lebih luas. Dalam konteks pendidikan, gerakan literasi seperti ini merupakan investasi jangka panjang karena kemampuan membaca akan menjadi fondasi bagi kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, membangun imajinasi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, keterbatasan fasilitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk mematikan semangat belajar; justru keterbatasan dapat menjadi titik awal lahirnya kreativitas, kemandirian, dan ketangguhan anak-anak dalam mengejar masa depan.
Lebih jauh, kolaborasi ini menghadirkan dimensi pendidikan yang sering kali tidak ditemukan hanya melalui proses pembelajaran di dalam kelas, yaitu pendidikan karakter melalui pengalaman nyata. Anak-anak home schooling dari wilayah perkotaan belajar bahwa Indonesia bukan hanya tentang ruang hidup yang mereka kenal, tetapi juga tentang saudara-saudara sebangsa yang hidup di pulau-pulau dengan kondisi yang berbeda. Pertemuan dengan anak-anak Saseel menjadi proses pembelajaran sosial yang menanamkan empati, kepedulian, solidaritas, dan kesadaran bahwa keberagaman kondisi kehidupan merupakan bagian dari realitas Indonesia. Mereka belajar bahwa mencintai Indonesia bukan sekadar menghafalkan nama pahlawan, menyanyikan lagu kebangsaan, atau mengikuti upacara, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata: berbagi pengetahuan, menghadirkan kesempatan, menghargai sesama, dan memastikan tidak ada anak Indonesia yang merasa sendirian dalam memperjuangkan cita-citanya.
Dalam perspektif pendidikan nasional, kegiatan seperti ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, komunitas, sekolah, masyarakat, dan berbagai elemen sosial. BNEWME, Komunitas Home Schooling Sahabat Becik Banyuwangi, Komunitas Home Schooling Wonogiri, serta SDN 2 Saseel menunjukkan bahwa kolaborasi lintas daerah mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih inklusif dan humanis. Anak-anak tidak hanya diajarkan untuk menjadi individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang memiliki kepekaan terhadap realitas sosial. Di sinilah home schooling dapat mengambil peran strategis sebagai ruang pendidikan berbasis pengalaman, keluarga, komunitas, dan kehidupan nyata. Pendidikan semacam ini mengajarkan satu prinsip penting: semakin luas seseorang mengenal Indonesia, semakin besar pula peluang tumbuhnya rasa memiliki terhadap bangsa dan tanah airnya.
Sebagaimana disampaikan Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., M.Th., CBC., akademisi, public policy legacy, dan praktisi home schooler, gerakan pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa megah gedung sekolah atau lengkapnya fasilitas yang tersedia, tetapi juga dari seberapa besar pendidikan mampu menyalakan harapan dalam diri seorang anak. Perjalanan dan kolaborasi menuju Saseel menjadi sebuah pesan bahwa literasi dapat menjadi jembatan antarpulau, pendidikan dapat menjadi ruang perjumpaan antarsesama anak bangsa, dan kepedulian dapat menjadi bahasa yang menyatukan Indonesia. Anak-anak kota belajar tentang empati dari saudara mereka di kepulauan, sementara anak-anak Saseel mendapatkan pengalaman bahwa perjuangan belajar mereka diperhatikan dan dihargai. Pada akhirnya, inilah pendidikan yang sesungguhnya: bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga membentuk generasi yang mampu melihat Indonesia secara utuh dari kota hingga pulau terluar, dari mereka yang memiliki fasilitas hingga mereka yang belajar dalam keterbatasan dengan satu kesadaran bahwa setiap anak Indonesia adalah bagian penting dari masa depan negeri ini.
HS.
