RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI — Sastra tumbuh dari pengalaman manusia dan sering kali menemukan akarnya pada sebuah tempat. Banyuwangi, dengan sejarah, kebudayaan, alam, dan ingatan kolektifnya, kembali hadir dalam percakapan sastra melalui buku puisi Selasar Jejarak karya Nurul Ludfia Rohmah, Muttafaqurrochmah, dan E.P. Albatiruna.
Karya tersebut dibahas dalam sebuah forum bedah buku yang digelar secara daring, Kamis (3/9/2026). Kegiatan itu mempertemukan penyair, akademisi, pendidik, pegiat literasi, serta pembaca untuk melihat lebih jauh karya ketiga penyair sekaligus membaca perkembangan kesusastraan di Banyuwangi.
Kehadiran tiga penulis dalam satu buku memberikan warna tersendiri. Mereka datang dari pengalaman, lingkungan, dan generasi yang berbeda. Perbedaan tersebut kemudian melahirkan karakter puisi yang beragam, baik dalam pemilihan diksi, pengolahan pengalaman, maupun cara memandang kehidupan.
Forum menghadirkan Jack Parmin, dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Siswanto, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Jember (Unej), serta Anton Wahyudi, dosen Universitas PGRI Jombang, sebagai pembedah. Diskusi dipandu Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Hasan Basri, turut membuka kegiatan sekaligus menyampaikan apresiasi atas terbitnya karya tersebut.
Menurut perspektif yang berkembang dalam diskusi, lahirnya Selasar Jejarak tidak dapat dilepaskan dari dinamika sastra Banyuwangi yang terus bergerak. Produktivitas kepenulisan tidak hanya terlihat dari terbitnya buku, tetapi juga dari tumbuhnya komunitas, forum diskusi, pembacaan puisi, keterlibatan sekolah dan perguruan tinggi, serta semakin terbukanya ruang bagi penulis untuk memperkenalkan karya.
Banyuwangi dalam Jarak dan Ingatan
Salah satu persoalan menarik yang muncul dalam pembahasan adalah hubungan penyair dengan tanah kelahirannya.
Salah satu penulis Selasar Jejarak saat ini bahkan berada di Turki. Namun, perpindahan ruang hidup tidak serta-merta memutus hubungan dengan Banyuwangi. Sebaliknya, jarak justru dapat menghadirkan perspektif baru dalam memandang tempat yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup.
Bagi penyair, sebuah daerah tidak selalu hadir sebagai batas administratif. Banyuwangi dapat menjelma menjadi ingatan, kerinduan, lanskap, manusia, bahasa, tradisi, hingga pengalaman personal.
Ketika dituangkan ke dalam puisi, seluruh pengalaman tersebut mengalami proses kreatif. Peristiwa tidak lagi hadir sebagai fakta mentah, melainkan berubah menjadi simbol, citraan, metafora, dan renungan.
Dengan demikian, tanah kelahiran dapat tetap hadir meskipun tubuh berada jauh darinya.
Puisi menjadi semacam jembatan yang mempertemukan masa lalu dengan masa kini, tempat yang ditinggalkan dengan ruang yang sedang dihuni.
Ketika Kata Mendapatkan Suara
Bedah buku tersebut tidak hanya berlangsung melalui pembacaan akademis. Puisi-puisi dalam Selasar Jejarak juga dihadirkan melalui pembacaan.
Nukhbatul Fahiroh dari MTsN 1 Banyuwangi, yang pernah meraih Liga Puisi tingkat guru pada 2023, membuka sesi pembacaan. Selanjutnya, puisi dibacakan Muhammad Enggar, SAW Notodiharjo, dan Kaka Rivy dari SMAN 1 Glagah.
Rina Kartika, Kepala SMAN 1 Muncar, turut membacakan puisi. Kehadirannya memiliki keterkaitan tersendiri dengan salah seorang penulis, Echa, yang merupakan alumni SMAN 1 Muncar.
Pembacaan puisi memberikan dimensi berbeda terhadap karya. Kata-kata yang semula berada di halaman buku memperoleh suara, intonasi, jeda, dan tekanan. Puisi tidak lagi hanya menjadi teks, tetapi hadir sebagai pengalaman estetik yang dapat didengar dan dirasakan.
Dalam konteks tersebut, forum bedah buku berkembang menjadi ruang perjumpaan antara penulis, teks, pembaca, dan pendengar.
Sastra Tidak Tumbuh dari Satu Suara
Tiga pembedah memberikan sudut pandang yang berbeda terhadap karya-karya yang terdapat dalam Selasar Jejarak.
Jack Parmin, Siswanto, dan Anton Wahyudi membaca puisi melalui beragam pendekatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa karya sastra tidak pernah berdiri hanya dengan satu tafsir.
Puisi dapat dibaca melalui struktur dan bahasa, pengalaman personal penyair, latar sosial, konteks budaya, hingga hubungan karya dengan lingkungan tempat penyair tumbuh.
Siswanto menyoroti dinamika sastra Banyuwangi yang dinilai menunjukkan perkembangan cukup berarti. Pertumbuhan tersebut tidak hanya ditentukan oleh jumlah buku atau penulis, tetapi juga oleh semakin banyaknya ruang pertemuan antara penulis, pembaca, komunitas, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, dan institusi kebudayaan.
Sementara itu, keberadaan tiga penyair dengan karakter berbeda memperlihatkan bahwa perkembangan sastra justru membutuhkan keberagaman.
Sastra tidak harus memiliki satu suara. Sebaliknya, semakin banyak suara yang tumbuh, semakin luas pula kemungkinan sebuah daerah membangun tradisi kesusastraannya.
Pandangan mengenai proses kreatif ketiga penulis juga disampaikan Tengsoe Tjahjono. Sastrawan dan akademisi tersebut melihat adanya perkembangan dalam kemampuan ketiganya mengolah pengalaman menjadi karya puitik.
Pengalaman hidup tidak berhenti sebagai catatan peristiwa. Melalui kreativitas, pengalaman tersebut diolah menjadi bahasa yang memiliki kekuatan simbolik dan estetik.
Puisi sebagai Rekaman Kebudayaan
Percakapan tentang perkembangan sastra Banyuwangi turut melibatkan Sangat Mahendra, sastrawan Madura. Hadir pula Yulitin dari Balai Bahasa serta Elvin Hendrata dari Dewan Kesenian Blambangan Banyuwangi.
Fatah Yasin Nur dari Komite Bahasa dan Sastra DKB Banyuwangi juga turut membaca sejumlah puisi dalam buku tersebut.
Pembacaan itu memperlihatkan bagaimana pengalaman personal penyair dapat berkelindan dengan lingkungan dan realitas sosial Banyuwangi.
Sastra memang bukan dokumen sejarah. Namun, karya sastra mampu menyimpan jejak sebuah zaman melalui cara yang khas.
Puisi dapat mengabadikan tempat melalui citraan, merekam perubahan sosial melalui simbol, dan menyimpan pengalaman manusia melalui metafora.
Karena itu, Selasar Jejarak dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari perjalanan panjang sastra Banyuwangi. Buku tersebut tentu tidak mewakili seluruh wajah kesusastraan daerah, tetapi menunjukkan bahwa ruang penciptaan dan pembacaan sastra masih terus terbuka.
Dari Banyuwangi, Kata Terus Berjalan
Selasar Jejarak pada akhirnya tidak hanya dapat dipahami sebagai judul sebuah buku. Ia juga dapat dibaca sebagai gambaran tentang perjalanan sastra itu sendiri.
Selasar merupakan ruang yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Di sana orang dapat berjalan, berhenti, bertemu, berbincang, kemudian melanjutkan langkah.
Sastra pun demikian. Ia berada di antara pengalaman pribadi dan kehidupan sosial, antara tanah kelahiran dan dunia yang lebih luas, antara teks dan suara.
Seorang penyair dapat meninggalkan Banyuwangi secara geografis, tetapi melalui puisi, Banyuwangi dapat kembali hadir dalam bentuk yang berbeda.
Ia dapat menjadi kenangan, kerinduan, pertanyaan, bahkan ruang perenungan.
Di situlah sastra menemukan salah satu kekuatannya. Sebuah tempat tidak hanya hidup karena bangunan, jalan, atau batas wilayah, tetapi juga karena manusia yang terus mengingat dan menceritakannya.
Selasar Jejarak menjadi salah satu penanda bahwa denyut sastra Banyuwangi masih berlangsung. Tiga penyair menghadirkan tiga suara, tiga pengalaman, dan tiga cara memandang dunia.
Dari perbedaan itulah ruang sastra menjadi lebih luas.
Sebab puisi tidak benar-benar selesai ketika titik terakhir dituliskan. Ia baru memulai perjalanan berikutnya ketika dibaca, didengarkan, ditafsirkan, dan diperbincangkan.
Dan dari Banyuwangi, perjalanan kata itu masih terus berlanjut.***
