RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BESUKI, SITUBONDO — Semangat sejarah kembali menggema di tanah Besuki. Dalam rangka memperingati Hari Jadi Besuki (HJB) ke-262 Tahun 2026, ratusan langkah peserta Napak Tilas menyusuri jejak perjuangan dan peninggalan para leluhur, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta tersebut mendapat pengamanan ketat dari personel gabungan Polsek Besuki, TNI, Satpol PP dan Dinas Perhubungan. Aparat disiagakan sepanjang jalur untuk memastikan seluruh rangkaian Napak Tilas berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Perjalanan sejarah itu dimulai dari Makam Sepacar, Dusun Demung Barat, Desa Demung. Dari titik awal, para peserta kemudian berjalan menyusuri sejumlah kawasan bersejarah, melintasi Dusun Mandaran Desa Pesisir, Dusun Kota Timur Besuki hingga kawasan Dhalem Tengah dan Utara Alun-Alun Besuki.
Dengan jarak tempuh kurang lebih 2,5 kilometer, langkah demi langkah peserta seakan membawa kembali ingatan masyarakat Besuki terhadap perjalanan panjang daerah yang kini telah memasuki usia ke-262 tahun.
Napak Tilas kemudian dilanjutkan dengan ziarah dan doa bersama di Makam Ki Pate Alos, Desa Besuki, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan menuju Makam Bupati Tegal Mas di Desa Bloro, Kecamatan Besuki.
Sejumlah tokoh dan pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah, S.Pd.I., Kapolsek Besuki AKP H. Adam, S.H., M.M., Camat Besuki Yakup Alex Susanto, S.T., perwakilan Danramil Besuki, para Camat wilayah Barat, para Kepala Desa se-Kecamatan Besuki, Korwil Diknas, Ketua DPD Golkar Situbondo, serta panitia HJB Besuki.
Untuk menjamin keamanan selama kegiatan berlangsung, personel gabungan disebar di sejumlah titik strategis, termasuk sepanjang jalur yang dilalui peserta Napak Tilas. Kehadiran aparat gabungan menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan berjalan kondusif tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.
Namun, Napak Tilas HJB ke-262 bukan sekadar perjalanan kaki menyusuri jalan dan kampung-kampung tua Besuki.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, perjuangan, serta jasa para leluhur yang telah meletakkan pondasi perjalanan Besuki hingga terus berkembang sampai hari ini.
Di tengah derasnya perkembangan zaman, Napak Tilas menjadi pengingat bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh pembangunan fisik dan kemajuan modern, tetapi juga oleh sejarah panjang, perjuangan, dan warisan nilai yang harus terus dijaga.
Dari makam para tokoh hingga jalan-jalan yang dilalui, Besuki seakan kembali berbicara: sejarah tidak boleh dilupakan, leluhur tidak boleh ditinggalkan, dan generasi penerus harus terus menjaga api perjuangan yang telah diwariskan selama lebih dari dua setengah abad.***
