Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., CBC.
(Rakyat Biasa)
RADAR-BLAMBANGAN.COM, | Suahasil Nazara menjadi Menteri Keuangan bukanlah kejutan besar. Dengan pengalaman sekitar tujuh tahun sebagai Wamenkeu sejak era Sri Mulyani, ia adalah figur yang sangat familiar dengan birokrasi fiskal dan pasar. Karena itu, pergantian ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal konsolidasi fiskal: lebih hati-hati, terukur, dan predictable.
Yang menarik justru latar belakangnya. Suahasil bukan orang bank atau pasar modal. Ia akademisi dan peneliti yang sejak lama banyak mengkaji kemiskinan, ketimpangan, serta desentralisasi fiskal. Risetnya mengenai PKH juga menunjukkan bahwa perlindungan sosial merupakan bagian penting dari perspektif kebijakannya. Jadi, disiplin fiskal dan pemerataan seharusnya bukan dua agenda yang saling bertentangan.
Tantangan Suahasil bukan membuat revolusi fiskal, tetapi memperbaiki kualitas setiap rupiah APBN. Bansos harus semakin tepat sasaran dan mendorong mobilitas ekonomi. Transfer ke daerah juga perlu lebih dari sekadar membagi uang harus menciptakan insentif bagi daerah untuk meningkatkan pelayanan publik dan kinerja ekonomi.
Dari sisi pasar, stabilitas rupiah, kredibilitas APBN, pengelolaan utang, penerimaan negara, dan konsistensi komunikasi akan menjadi ujian utama. Pengalamannya di Kementerian Keuangan menjadi modal kuat untuk menjaga predictability. Tetapi keberhasilan seorang Menteri Keuangan tidak cukup diukur dari IHSG, rupiah, atau yield obligasi. Ukurannya juga harus terlihat dalam kemiskinan yang turun, ketimpangan yang berkurang, dan belanja negara yang semakin produktif.
Jadi, saya tidak melihat Suahasil sebagai figur yang akan membawa revolusi fiskal. Lebih mungkin ia membawa fase konsolidasi: fiskal tetap disiplin, pasar tetap diberi kepastian, tetapi fungsi APBN sebagai instrumen pemerataan dan pembangunan sosial tidak ditinggalkan. Karakter Suahasil nantinya bukan terlihat dari seberapa besar gebrakannya, tetapi dari seberapa baik ia menjaga keseimbangan antara angka fiskal di atas kertas dan realitas ekonomi yang dirasakan masyarakat.
HS.
