_Assalamualaikum Wr Wb – Salam Persaudaraan_
RADAR-BLAMBANGAN.COM, | Jakarta – Ada sebuah renungan yang beredar dari Ketum PITI [Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia] Dr. Ipong Hembing Putra yang patut kita baca pelan-pelan. Judulnya sederhana: _Bukan Mati Yang Menakutkan._
Dan isinya jujur, menampar kita yang masih merasa muda.
Ternyata Yang Berat Bukan Cari Uang
Dulu kita pikir yang paling berat adalah mencari uang. Mengejar karir, cicilan rumah, biaya sekolah anak.
Baru di usia senja kita sadar, yang lebih berat adalah menjadi tua perlahan-lahan.
Lutut mulai nyeri, pinggang ngilu, mata kabur, telinga berdenging, tidur tak nyenyak. Obat bertambah satu per satu. Dan yang paling tidak mudah: semua itu hampir pasti tidak membaik, melainkan berangsur memburuk. Justru ketika penghasilan bulanan sudah menurun.
Di titik itu muncul pertanyaan yang jarang kita pikirkan saat muda: Kalau nanti jatuh di kamar mandi, siapa yang menolong? Kalau sakit seminggu, siapa yang menemani?
Rumah yang Tiba-Tiba Terasa Asing
Anak? Belum tentu bisa selalu ada. Mereka punya pekerjaan, punya pasangan, punya anak, punya hidup yang harus diperjuangkan.
Kalau pasangan masih ada, kita masih bisa saling menjaga. Tapi kalau pasangan sudah pergi duluan, rumah yang sama tiba-tiba terasa asing. Meja makan masih ada, kursinya masih ada, tapi orang yang biasanya duduk di sana sudah tidak ada.
Seperti kisah kakek di warung yang makanannya sudah habis, kopinya tinggal sedikit, tapi ia tak kunjung pulang. Tatapannya kosong. Seolah yang ia tunggu bukan makanan, melainkan seseorang yang datang dan berkata, “Apa kabar?” atau sekadar, “Ayo kita pulang…”
Itulah potret yang sering kita lupa. Banyak orang tua bukan hanya takut mati. Mereka takut menjalani hari-hari seorang diri.
Siapkan Masa Tua, Bukan Hanya Pensiun
Renungan ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini ajakan untuk kebaikan. Untuk kita yang hari ini masih kuat, masih muda, masih sibuk.
Jurnalistik yang beretika mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat angka harapan hidup, tapi kualitas hidup di ujung harapan itu.
Maka pesannya menjadi relevan untuk semua:
*1. Rawat Kesehatan Sejak Hari Ini.* Jaga makan, olahraga, istirahat. Kesehatan adalah tabungan paling mahal di masa tua.
*2. Jaga Pasangan.* Teman hidup adalah perawat terbaik yang tidak dibayar. Sayangi selagi ada.
*3. Pelihara Persahabatan.* Di masa tua, sahabat adalah keluarga kedua yang mengusir sepi.
*4. Dekatkan Diri Dengan Anak-Anak dan Tuhan.* Karena pada akhirnya, yang menenangkan bukan harta yang menumpuk, tapi rasa dicintai dan rasa dekat dengan Sang Pencipta.
Yang paling menakutkan ternyata bukan tidak punya uang, melainkan tidak punya orang yang benar-benar peduli saat kita sudah tidak berdaya lagi.
Semoga renungan ini menjadi pengingat lembut untuk kita semua. Untuk menyiapkan masa tua yang tidak hanya panjang umur, tapi juga penuh cinta dan tidak sendirian.***
