RADAR BLAMBANGAN.COM, | LUWU — Nama Ryan Latief La Kaseng belakangan kerap mencuat dalam berbagai forum adat, sosial, dan pergerakan kedaerahan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Sosok yang dikenal sebagai tokoh masyarakat sekaligus pengusaha asal Tana Luwu ini disebut-sebut memiliki keterikatan kuat dengan silsilah bangsawan Kedatuan Luwu, salah satu kerajaan tertua di Sulawesi.
Berdasarkan penelusuran historis dan informasi publik, Ryan Latief secara terbuka menyatakan dirinya sebagai bagian dari wija (keturunan) keluarga besar Kedatuan Luwu, melalui garis La Kaseng sosok yang dalam catatan lontara dikenal sebagai Datu Luwu ke-25.
Keturunan La Kaseng, Datu Luwu ke-25
Dalam silsilah resmi Kedatuan Luwu, La Kaseng tercatat sebagai Datu Luwu ke-25 yang memerintah sekitar tahun 1760–1765. Ia dikenal dengan gelar anumerta Petta Matinroe ri Kaluku Bodoe, dan memegang peran penting pada masa transisi pemerintahan Luwu di abad ke-18.
La Kaseng naik takhta menggantikan keponakannya, We Tenrileleang (Datu Luwu ke-24), yang kala itu meninggalkan Luwu. Setelah masa pemerintahan La Kaseng berakhir, We Tenrileleang kembali memerintah sebagai Datu Luwu ke-26. Seluruh garis raja Luwu, termasuk La Kaseng, secara adat ditarik silsilahnya kepada Tomanurung, sosok mitologis yang dipercaya sebagai asal-usul kepemimpinan di Tanah Luwu.
Ryan Latief mengonfirmasi bahwa dirinya berasal dari garis keluarga besar La Kaseng. Dalam tradisi Bugis, istilah “cucu” atau keturunan tidak selalu dimaknai secara satu generasi langsung, melainkan sebagai wija keturunan yang bersambung secara genealogis dan adat.
Identitas Adat dan Pengakuan Gelar
Identitas kebangsawanan Ryan Latief juga tampak dari penggunaan nama La Kaseng dalam berbagai kegiatan adat. Pada Juni 2025, ia menerima penganugerahan gelar dari Kesultanan Demak dengan gelar lengkap Kanjeng Raden Mas Haryo Projo Negoro Ryan Latief La Kaseng. Penganugerahan tersebut memperkuat legitimasi identitas adat yang selama ini ia sandang.
Penggunaan nama La Kaseng bukan sekadar simbol, melainkan penegasan keterikatan historis dengan sosok Datu Luwu ke-25 yang dikenal sebagai pemimpin pada masa krusial Kedatuan Luwu.
Aktivisme Kedaerahan dan Sosial
Di luar latar adatnya, Ryan Latief dikenal aktif dalam berbagai organisasi dan pergerakan kedaerahan. Ia kerap menyuarakan aspirasi masyarakat Luwu Raya, termasuk mendorong perhatian lebih besar terhadap pembangunan, pelestarian adat, dan wacana pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Dalam sejumlah forum, Ryan Latief juga terlihat mendampingi tokoh-tokoh adat dan perangkat Kedatuan Luwu, memperkuat posisinya sebagai bagian dari keluarga besar kerajaan yang tidak hanya membawa nama, tetapi juga tanggung jawab sosial dan budaya.
Menjaga Marwah Warisan Luwu
Bagi masyarakat adat Luwu, nama La Kaseng memiliki makna historis yang mendalam. Dengan menyandang nama tersebut, Ryan Latief dinilai memikul tanggung jawab moral untuk menjaga marwah, nilai, dan warisan Kedatuan Luwu di tengah dinamika zaman modern.
Sebagai keturunan Datu Luwu, silsilah Ryan Latief secara adat terhubung dengan Tomanurung sosok awal yang diyakini menjadi fondasi peradaban dan kepemimpinan di Tanah Luwu. Sebuah warisan yang bukan hanya soal darah, tetapi juga amanah sejarah.***
