RADAR BLAMBANGAN.COM, | Subulussalam – Malam selalu datang perlahan di sebuah rumah kontrakan sederhana di Jalan BB Jalal, Kecamatan Simpang Kiri. Di dalamnya, seorang ibu bernama Tari menjalani hidup yang tak banyak orang sanggup memikulnya. Setiap hari, ia merawat anak semata wayangnya, Nuri (9), yang terbaring lemah akibat cerebral palsy tak bisa melihat, tak mampu berjalan, dan sepenuhnya bergantung pada sentuhan ibunya.
Nuri adalah dunia kecil bagi Tari. Tubuh mungil itu mungkin tak mampu berlari, tetapi di sanalah seluruh cinta seorang ibu berlabuh. Dengan sabar, Tari menyuapi, membersihkan, dan memeluk anaknya, seakan ingin menggantikan semua kebahagiaan yang tak sempat Nuri rasakan.
“Sebagai ibu, rasanya hati ini hancur. Tapi saya tidak boleh lemah. Kalau saya menyerah, siapa yang menjaga Nuri?” ucap Tari lirih, matanya berkaca-kaca, menyimpan luka yang hanya bisa dipahami oleh seorang ibu.
Ketika malam semakin larut, dan kota mulai terlelap, perjuangan Tari belum berakhir. Usai memastikan Nuri aman dan tertidur, ia melangkah ke dinginnya malam. Di depan Polsek Simpang Kiri, ia berjualan hingga pukul tiga dini hari, menukar rasa lelah dan kantuk demi sesuap harapan untuk hari esok.
“Ada kalanya badan ini sudah tidak kuat. Tapi setiap kali pulang dan melihat senyum Nuri, meski tak sempurna, saya merasa semua itu terbayar,” tuturnya pelan.
Tari memilih ikhlas, bukan karena tak sakit, tetapi karena ia percaya. Baginya, kondisi Nuri adalah amanah sekaligus ujian dari Allah SWT ujian yang harus dijalani dengan sabar dan doa.
“Saya yakin Allah tidak salah memberi ujian. Tugas saya hanya kuat dan ikhlas,” katanya.
Di balik keterbatasan dan rumah yang sederhana, berdiri keteguhan yang luar biasa. Ibu Tari mengajarkan bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi tentang bertahan, merawat, dan tetap berharap ketika hidup terasa begitu berat.
Kisahnya mengetuk nurani warga sekitar. Harapan pun tumbuh, agar ada uluran tangan dari mereka yang diberi kelapangan rezeki, sehingga beban Tari dan Nuri dapat sedikit diringankan—terutama untuk kebutuhan perawatan dan kehidupan sehari-hari.
Bagi para dermawan yang tergerak oleh kisah ini, bantuan dapat disalurkan melalui rekening BSI: [nomor rekening]. Setiap rupiah bukan sekadar angka, melainkan doa dan harapan yang menguatkan.
Di rumah kontrakan itu, tak ada kemewahan. Namun ada cinta yang tak pernah padam. Di sana, seorang ibu menyalakan harapan setiap hari dengan doa, air mata, dan keteguhan hati demi seorang anak yang menjadi seluruh alasan hidupnya.***
