RADAR BLAMBANGAN.COM, | Banyuwangi – Selasa, (24/03/2026), PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyiapkan strategi operasional berlapis untuk mengantisipasi lonjakan arus balik Lebaran 2026 di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Pendekatan ini menitikberatkan pada respons cepat, koordinasi lintas instansi, serta optimalisasi armada guna menjaga kelancaran penyeberangan di Selat Bali.
Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, menegaskan bahwa seluruh skenario telah dirancang adaptif sesuai dinamika di lapangan. Dalam kondisi normal, operasional berjalan seperti biasa, namun ketika terjadi lonjakan kendaraan atau cuaca ekstrem, langkah mitigasi akan langsung diaktifkan secara terukur dan terkoordinasi.
Salah satu skema utama yang disiapkan adalah pola tiba bongkar berangkat (TBB). Pola ini akan diterapkan saat kepadatan di kantong parkir Pelabuhan Ketapang mencapai ambang batas, yakni sekitar 972 unit kendaraan. Dengan skema tersebut, kapal yang tiba tidak menunggu muatan dari Gilimanuk, melainkan langsung kembali beroperasi dari Ketapang untuk mempercepat penguraian antrean.
Di sisi armada, ASDP mengandalkan kapal berkapasitas besar guna meningkatkan produktivitas bongkar muat, termasuk KMP Portlink VII dan KMP Liputan XII. Kedua kapal ini diproyeksikan menjadi tulang punggung dalam menghadapi lonjakan volume kendaraan selama periode arus balik.
Tak hanya itu, sistem buffer zone juga dioptimalkan sebagai bagian dari manajemen lalu lintas terpadu. Area penyangga di Grand Watudodol dan Bulusan disiapkan untuk menampung sekitar 900 kendaraan penumpang, sementara kendaraan logistik dialihkan ke sejumlah titik seperti Terminal Sritanjung dan kawasan Pelindo Tanjung Wangi dengan kapasitas hingga 600 unit.
Secara keseluruhan, ASDP menyiagakan 55 kapal di lintasan ini dengan pola operasi harian berkisar 28 hingga 32 unit kapal, menyesuaikan kondisi kepadatan. Operasional tersebut dibagi dalam kategori normal, padat, hingga sangat padat.
ASDP juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari puncak arus balik yang diperkirakan terjadi pada 26–29 Maret 2026. Pengguna jasa diminta merencanakan perjalanan lebih awal serta membeli tiket secara daring melalui aplikasi Ferizy atau situs resmi, guna mengurangi potensi penumpukan di pelabuhan.
“Disiplin pengguna jasa dalam mengatur waktu perjalanan dan pembelian tiket menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran arus balik,” tegas Yossianis.***
