RADAR BLAMBANGAN.COM, | Banyuwangi, (23/03/2026), – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak bisa bertumpu pada pemerintah semata. Dibutuhkan kolaborasi luas, termasuk peran strategis diaspora, untuk menjawab tantangan wilayah yang kian kompleks.
Pesan itu disampaikan Ipuk saat menghadiri silaturahmi ratusan diaspora Banyuwangi dalam momentum Lebaran 2026 di Pendopo Kabupaten. Ia menyebut, warga Banyuwangi yang berada di luar daerah memiliki posisi penting sebagai penghubung sekaligus penggerak kontribusi bagi tanah kelahiran.
“Membangun Banyuwangi tidak bisa sendirian. Harus ada kebersamaan, termasuk dari diaspora yang tersebar di berbagai daerah,” ujar Ipuk.
Dalam forum tersebut, Ipuk juga memaparkan sejumlah indikator makro yang menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi pada 2025 tercatat mencapai 5,65 persen, melampaui rata-rata nasional dan Provinsi Jawa Timur. Pendapatan per kapita pun meningkat menjadi Rp67,08 juta, tertinggi di kawasan Sekarkijang.
Selain itu, tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi 6,13 persen, dengan gini rasio berada di angka 0,29 dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 3,94 persen. Menurut Ipuk, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen masyarakat.
“Ini bukan semata kerja pemerintah, tapi hasil dari kebersamaan dan dukungan semua pihak, termasuk diaspora yang ikut mengharumkan Banyuwangi,” tegasnya.
Meski demikian, Ipuk tidak menutup mata terhadap berbagai pekerjaan rumah yang masih perlu diselesaikan, khususnya persoalan infrastruktur jalan. Ia mengakui keluhan masyarakat terus menjadi perhatian dan telah ditindaklanjuti melalui pemetaan serta percepatan perbaikan di berbagai titik.
“Kami tidak hanya mendengar dan mencatat, tapi bergerak. Perbaikan jalan terus kami lakukan dengan kemampuan anggaran yang ada,” ujarnya.
Sementara itu, Penasihat Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Pusat, Arief Yahya, mendorong diaspora untuk mengambil peran aktif sesuai kapasitas masing-masing. Ia menekankan pentingnya memahami potensi ekonomi utama Banyuwangi sebagai pijakan kontribusi.
Menurut Arief, sektor pariwisata menjadi salah satu tulang punggung yang bisa didorong bersama. Diaspora, kata dia, dapat berperan sebagai duta informal dalam mempromosikan destinasi Banyuwangi di wilayah perantauan.
“Setiap diaspora bisa berkontribusi dengan caranya masing-masing. Jadilah representasi terbaik Banyuwangi di mana pun berada,” katanya.
Silaturahmi ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan antara pemerintah daerah dan diaspora, guna memperkuat arah pembangunan Banyuwangi yang inklusif dan berkelanjutan.***
