RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah seorang guru dan satu siswa di SDN 1 Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, diduga mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Peristiwa ini terjadi saat makanan MBG yang dikirim oleh penyedia katering melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dibagikan kepada siswa.
Sesuai kebiasaan di sekolah, sebelum makanan dibagikan kepada siswa, pihak guru terlebih dahulu mencicipi menu tersebut sebagai langkah antisipasi guna memastikan makanan aman dikonsumsi.
Namun sekitar 30 menit setelah makanan dikonsumsi, seorang guru dan satu siswa dilaporkan mengalami mual dan muntah.
Keduanya diketahui bernama Eva Yanuarti (37), guru SDN 1 Kalibaru Wetan, dan Grace Nofikha Axcellia (10), siswi di sekolah tersebut.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dari Puskesmas Kalibaru, kedua pasien mengalami keluhan dyspepsia atau gangguan lambung yang ditandai dengan mual dan muntah. Untuk saat ini keduanya menjalani rawat jalan dan telah mendapatkan obat dari tenaga medis.
Dugaan Masalah pada Penyedia Makanan
Insiden ini langsung memicu sorotan dari sejumlah wali murid yang mempertanyakan kualitas makanan yang disuplai oleh penyedia katering dalam program MBG melalui SPPG.
Menurut beberapa wali murid, menu makanan yang diterima siswa dinilai sangat sederhana dan tidak mencerminkan program makan bergizi yang digembar-gemborkan pemerintah.
Bahkan, mereka menilai kualitas makanan tersebut jauh dari nilai anggaran yang disebut mencapai Rp10.000 per porsi.
“Kalau melihat menu yang dibagikan, menurut kami nilainya jauh sekali dari Rp10 ribu. Bahkan ada yang menilai mungkin hanya sekitar Rp2.500 saja,” ujar salah satu wali murid.
Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa pengelolaan penyediaan makanan oleh pihak katering atau SPPG perlu dievaluasi secara serius, terutama terkait standar kualitas, kebersihan, dan kesesuaian anggaran.
Jangan Sampai Anak Jadi Korban Sistem
Para wali murid menegaskan bahwa mereka tidak menolak program MBG yang merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan gizi anak-anak.
Namun mereka meminta pihak terkait agar tidak terburu-buru menjalankan program jika sistem pengawasan terhadap penyedia makanan belum benar-benar siap.
“Kami mendukung program Presiden. Tapi jangan sampai anak-anak kami dijadikan percobaan kalau penyedia makanan atau sistemnya belum siap,” tegas salah satu wali murid.
Perlu Pengawasan Ketat
Insiden ini dinilai harus menjadi perhatian serius bagi pihak penyelenggara program MBG, khususnya dalam pengawasan terhadap penyedia katering atau SPPG yang bertanggung jawab menyiapkan makanan untuk siswa.
Masyarakat berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap penyedia makanan, termasuk proses pengadaan bahan, pengolahan makanan, hingga distribusi ke sekolah.
Jika tidak diawasi secara ketat, program yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah dikhawatirkan justru menimbulkan persoalan baru di lapangan.***
