RADAR BLAMBANGAN.COM, | SINGARAJA – Pemerintah Kabupaten Buleleng menghadirkan terobosan baru dalam penataan kawasan kota dengan memanfaatkan limbah plastik daur ulang sebagai bahan baku papan nama jalan. Inovasi ini diterapkan di kawasan strategis Titik Nol Kota Singaraja sebagai bagian dari gerakan penataan kota yang ramah lingkungan, estetis, dan fungsional.
Program tersebut merupakan kolaborasi antara Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng dan Rumah Plastik Mandiri Buleleng. Selain mempercantik wajah kota, langkah ini juga menjadi solusi konkret dalam mengurangi timbunan sampah plastik.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan Adnyana Putra, menjelaskan bahwa gagasan ini berangkat dari arahan Bupati dan Wakil Bupati Buleleng untuk menghadirkan konsep baru penataan kawasan, khususnya di Titik Nol Singaraja.
“Penataan kawasan tidak hanya harus aman dan tertib, tetapi juga mengedepankan aspek keberlanjutan. Lampu penerangan jalan menggunakan PJUTS (Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya), kabel ditanam di bawah tanah, dan papan nama jalan kami rancang dari plastik daur ulang,” ujarnya saat ditemui di Rumah Plastik Mandiri Desa Petandakan, Rabu (11/2/2026).
Olah Lebih dari Satu Ton Sampah Plastik
Pada tahap awal, Dishub Buleleng menyiapkan 10 papan nama untuk lima ruas jalan, masing-masing dipasang di titik awal dan akhir ruas. Untuk memproduksi seluruh papan beserta tiangnya, dibutuhkan sekitar 880 kilogram plastik tercacah. Jika dihitung dari sampah mentah, jumlahnya mencapai lebih dari satu ton plastik yang dihimpun dari bank sampah dan TPST se-Kabupaten Buleleng.
Proses pengerjaan satu papan memerlukan waktu dua hingga tiga hari. Dengan demikian, keseluruhan 10 papan ditargetkan rampung dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Desain papan nama ini pun direncanakan akan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui BRIDA sebagai bentuk perlindungan inovasi daerah.
Sentuhan Seni Bali dan Fleksibel untuk Berbagai Momentum
Pemilik Rumah Plastik Mandiri Buleleng, Eka Darmawan, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan untuk merealisasikan program tersebut. Ia menyebut proyek ini sebagai kebanggaan tersendiri karena akan dinikmati masyarakat dalam jangka panjang di ruang publik.
Menurutnya, papan nama jalan dibuat dari plastik jenis HDPE yang dikenal kuat, aman, dan tahan terhadap cuaca. Tak hanya fungsional, desainnya juga diberi sentuhan ornamen khas Bali, bahkan direncanakan dilengkapi ukiran bergaya tradisional.
Menariknya, papan nama ini bersifat dinamis dan dapat dimodifikasi sesuai momentum tertentu, seperti peringatan HUT Kota Singaraja maupun Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan konsep tersebut, papan nama jalan tak sekadar penunjuk arah, melainkan juga media ekspresi identitas dan semangat kota.
Program ini diharapkan menjadi langkah nyata pengurangan sampah plastik sekaligus memperkuat citra Buleleng sebagai daerah inovatif dan peduli lingkungan. Inisiatif ini pun berpotensi menjadi model inspiratif bagi kabupaten/kota lain dalam mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan penataan ruang publik.***
