RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI – Menanggapi pemberitaan terkait audiensi Rumah Kebangsaan (RK) Banyuwangi dengan Kapolresta Banyuwangi yang menyoroti persoalan jalan rusak dan tambang ilegal, Ketua Serbu Wangi sekaligus Ketua APAM Wangi Faik, angkat bicara secara tegas dan terbuka, pada Minggu (25/01/26).
Faik menyatakan bahwa dirinya langsung menjawab isu tersebut dan bahkan mempertanyakan sumber informasi yang disampaikan dalam audiensi itu.
“Saya jawab langsung, dan saya juga tanya ke wartawannya: siapa yang membisiki Kapolresta? Saya sudah tahu arahnya. Tapi saya sampaikan dengan jelas, Kapolresta itu harus dibisiki yang baik-baik, bukan informasi yang menyesatkan,” tegas Faik.
Menurut Faik, persoalan jalan rusak tidak bisa disederhanakan dengan imbauan agar masyarakat menghindari jalan tertentu.
“Kalau jalan tidak rusak ya tidak usah dilewati, mas. Tapi faktanya, jalan itu dibangun negara dari pajak uang rakyat dan pajak kendaraan rakyat. Jalan dibangun bukan untuk dihindari, tapi untuk dilalui,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa fungsi utama jalan adalah sebagai urat nadi ekonomi rakyat.
“Jalan itu dibangun negara untuk mempercepat peningkatan ekonomi rakyat. Kalau jalannya rusak dan dibiarkan, yang rugi bukan cuma pengguna jalan, tapi seluruh aktivitas ekonomi masyarakat,” lanjutnya.
Faik bahkan menyoroti aspek hukum dari pembiaran jalan rusak.
“Justru kalau ada jalan rusak lalu dinas terkait tidak melakukan perawatan, itu bisa masuk ranah pidana, mas. Ada kewajiban negara di situ. Jangan logika publik dibalik,” katanya dengan nada keras.
Ia mengingatkan agar isu keselamatan publik tidak dijadikan alat saling lempar tanggung jawab, apalagi diarahkan sepihak kepada kepolisian.
“Polisi tugasnya penegakan hukum dan pengamanan. Tapi soal perawatan jalan, itu jelas tanggung jawab dinas teknis. Jangan sampai publik diarahkan seolah-olah masalah jalan rusak selesai hanya dengan imbauan,” tandas Faik.
Di akhir pernyataannya, Ketua Serbu Wangi sekaligus APAM Wangi menekankan pentingnya kejujuran narasi dan keberanian menyebut akar masalah.
“Kalau mau bicara keselamatan rakyat, ayo jujur. Yang lalai ya sebut lalai. Negara tidak boleh kalah oleh pembiaran,” pungkasnya.***
