RADAR BLAMBANGAN.COM, | SEMARANG – Suasana khidmat menyelimuti Kelurahan Ngaliyan, Kota Semarang, saat warga menggelar tradisi Nyadran atau Sadran pada Minggu (8/2/2026). Puncak acara ditandai dengan kirab 26 gunungan tumpeng yang diarak dari pendopo kelurahan menuju Makam Giriloyo. Kirab tersebut menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus doa bersama dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Tradisi Nyadran berasal dari kata Jawa “sadran” yang merujuk pada bulan Sya’ban (Ruwah). Ritual ini telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa Tengah. Nyadran bukan sekadar ziarah kubur, melainkan perpaduan harmonis antara nilai-nilai spiritual Islam dan kearifan budaya lokal.
Dalam prosesi tersebut, warga membersihkan makam dari rerumputan dan kotoran, menaburkan bunga telasih, serta memanjatkan doa untuk orang tua, kakek-nenek, dan kerabat yang telah berpulang.
Tahun ini, pelaksanaan Nyadran terasa lebih istimewa karena digelar secara penuh setelah sempat vakum akibat pandemi Covid-19. Lurah Ngaliyan, Nurkolis, secara resmi membuka rangkaian kegiatan tersebut.
“Tradisi ini rutin digelar setiap tahun, namun sempat terhenti. Pada 2026, atas usulan dan aspirasi warga, kami kembali menggelarnya secara lengkap. Saat pandemi hanya dilaksanakan sederhana, kini semangat kebersamaannya kami hidupkan kembali,” ujar Nurkolis.
Makam Giriloyo menjadi pusat ziarah bersama bagi 15 Rukun Warga (RW) di Kelurahan Ngaliyan, bahkan turut menarik peziarah dari luar wilayah. Keberadaan makam ini bukan hanya sebagai tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga simbol pengelolaan bersama yang mempererat silaturahmi dan kerukunan antarwarga.
Ketua panitia Nyadran, Agung, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Paguyuban Pangrekso Giriloyo yang melibatkan seluruh RW. Rangkaian acara meliputi kerja bakti pembersihan makam, kirab tumpeng, doa bersama, tausiah agama, hingga makan bersama dari tumpeng yang dibagikan kepada warga.
“Total ada 26 tumpeng, terdiri dari 15 tumpeng perwakilan masing-masing RW dan 10 lainnya dari RT yang berpartisipasi secara sukarela. Ini wujud nyata gotong royong warga,” jelas Agung.
Selain itu, panitia juga menyalurkan santunan kepada warga lanjut usia di setiap RW, menambah dimensi kepedulian sosial dalam tradisi tersebut.
Salah seorang warga RW 07, Suroyo, menuturkan bahwa Nyadran memiliki makna mendalam bagi masyarakat.
“Melalui tradisi seperti ini, nilai agama menjadi lebih membumi dan mudah dipahami. Ini bentuk kecintaan kepada orang tua dan leluhur yang telah berjuang. Sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah kebangsaan. Persatuan bangsa bisa dimulai dari kebersamaan umat di tingkat bawah,” ungkapnya.
Kembalinya Nyadran secara penuh di Ngaliyan menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap tangguh di tengah perubahan zaman. Di balik harum tumpeng dan doa-doa yang dipanjatkan, tersimpan pesan kuat tentang pentingnya menjaga identitas, kebersamaan, serta penghormatan kepada leluhur sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
**Sriyanto
