RADAR BLAMBANGAN.COM, | Lombok Timur – Sebuah kisah kemanusiaan menyentuh terjadi di wilayah Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Seorang anggota kepolisian menunjukkan kepedulian luar biasa terhadap seorang perantau yang terluka parah hingga menghembuskan napas terakhir tanpa didampingi keluarga.
Peristiwa ini bermula pada Kamis, 19 Maret sekitar pukul 17.00 WITA. Seorang pria yang mengaku bernama Abdul Rahim datang ke Mapolsek Pringgabaya dengan berjalan menggunakan tongkat bambu. Kondisinya memprihatinkan.
Saat dihampiri petugas piket, pria tersebut mengaku sedang sakit. Namun, ketika ia membuka sarungnya, petugas sontak terkejut melihat luka serius di tubuhnya. Kulitnya tampak melepuh akibat tersiram air panas.
Kepada petugas, Abdul Rahim menjelaskan bahwa luka tersebut terjadi akibat kecelakaan saat ia bekerja sebagai penjual bakso di Dusun Semaya, Desa Pringgabaya Utara. Ia mengaku tidak memiliki keluarga di Lombok. Sebelumnya, ia telah bercerai dengan istrinya di Brebes dan terpisah dari anaknya.
Melihat kondisi tersebut, petugas tidak tega membiarkannya. Ia segera menghubungi ambulans dari Puskesmas Pringgabaya untuk memberikan pertolongan medis. Namun, karena luka yang cukup parah, Abdul Rahim tidak dapat dirawat di puskesmas dan harus dirujuk ke RSUD dr. Soedjono Selong.
Meski sempat diliputi keraguan karena tidak ada keluarga yang mendampingi, petugas tersebut akhirnya memutuskan untuk bertanggung jawab penuh. Pada malam itu juga, ia bersama tim puskesmas mengantar Abdul Rahim ke rumah sakit dan bahkan bersedia menjadi penanggung jawab selama proses perawatan.
Keesokan harinya, Jumat (20/3), Abdul Rahim menjalani operasi kulit dan mendapatkan penanganan intensif. Selama masa perawatan, petugas tersebut rutin menjenguk dan membawakan makanan serta minuman sebagai bentuk kepedulian.
Kondisi Abdul Rahim sempat membaik. Luka-lukanya mulai mengering. Namun, harapan itu tak berlangsung lama. Memasuki Kamis pekan berikutnya, kondisinya tiba-tiba memburuk. Dokter menyatakan adanya infeksi bakteri dari luka bakar yang menyerang hingga ke saraf otak.
Pada malam Jumat, Abdul Rahim dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan serius. Petugas yang sejak awal membantu tetap setia mendampingi, bahkan menandatangani persetujuan tindakan medis.
Namun takdir berkata lain. Pada Jumat pagi sekitar pukul 06.30 WITA, Abdul Rahim dinyatakan meninggal dunia.
Situasi tersebut sempat membuat petugas kebingungan, mengingat almarhum tidak memiliki keluarga di Lombok. Dengan inisiatif, ia menghubungi mantan Kepala Dinas Sosial Lombok Timur, Haji Suroto, untuk meminta arahan.
Berdasarkan petunjuk yang diterima, proses penanganan jenazah dilakukan dengan melibatkan pihak Kecamatan Pringgabaya dan Pemerintah Desa Pringgabaya Utara. Sesuai ketentuan, jenazah orang terlantar dimakamkan di wilayah tempat tinggal terakhirnya.
Dengan semangat gotong royong, warga Dusun Semaya bersama aparat setempat bahu-membahu menggali liang kubur dan mempersiapkan proses pemakaman.
Usai salat Jumat, jenazah Abdul Rahim akhirnya dimakamkan secara layak. Meski tanpa keluarga, ia tidak sendiri di akhir hidupnya dikelilingi oleh kepedulian dan kemanusiaan dari orang-orang yang peduli.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan dan empati masih hidup di tengah masyarakat, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.***
