RADAR BLAMBANGAN.COM, | Jakarta – Kita sedang menyaksikan sebuah tragedi kebudayaan yang sistematis. Di mana gelar-gelar akademik berderet panjang namun nurani kering kerontang. Para profesor humaniora dikumpulkan, namun pertanyaannya. apakah yang hadir itu manusia atau sekadar robot-robot penghafal teori yang ijazahnya hanya menjadi lisensi untuk merampok hak publik?
Mari kita bicara angka yang membuat bulu kuduk berdiri. Dalam dua dekade terakhir, kebocoran APBN ditaksir mencapai 30 hingga 45 persen. Jika kita kalkulasi secara konservatif, angka ini menyentuh angka mengerikan 2,5 hingga 3 Kuadriliun rupiah. Sebuah angka yang cukup untuk membangun surga pendidikan di setiap pelosok nusantara, namun kenyataannya habis menguap di tangan orang-orang yang mengaku “cerdas”.
Di mana para cerdik pandai saat kuadriliun rupiah itu bocor? Mereka tidak sedang berteriak di garis depan. Mereka sedang asyik berteduh di bawah ketiak kekuasaan, menjadi konsultan-konsultan kebijakan yang justru melegalkan kebocoran tersebut melalui bahasa-bahasa teknokratis yang rumit dan menipu khususnya di era sebelum Presiden Prabowo Subianto.
Inilah wajah asli intelektualisme kita, Kecerdasan yang hanya digunakan untuk “ngadalin” rakyat. Sebuah akrobat logika yang mengubah kejahatan struktural menjadi kewajaran administratif. Kalian bukan sedang membangun negara, kalian sedang membangun kerajaan pribadi di atas tumpukan bangkai masa depan anak bangsa.
Lihatlah fenomena di BUMN dan bank-bank pemerintah. Kampus-kampus negeri yang katanya prestisius itu telah berubah menjadi kartel-kartel eksklusif. Alumninya “ngumpet” di sana, membangun tembok-tembok tinggi bernama nepotisme almamater. Mereka menciptakan “negara di dalam negara” yang hanya menguntungkan kelompok mereka sendiri, ini cerdas versi anda wahai tuan tuan yang terhormat.
Apakah Indonesia maju karena persatuan alumni kalian di BUMN? Tidak! Yang maju hanya saldo rekening kalian. Sementara itu, rakyat kecil hanya menjadi penonton di pinggiran jalan, melihat kalian bersalaman mesra sambil membagi-bagi kue pembangunan yang bahan bakunya adalah hutang dan pajak rakyat.
Skor PISA kita yang rendah adalah tamparan keras bagi muka kalian yang licin. Di saat kalian merasa paling hebat karena lulusan kampus elite, anak-anak di pelosok bahkan tidak tahu apakah besok mereka masih bisa sekolah. Kalian gagal total mengurus dunia pendidikan karena fokus kalian bukan pada literasi bangsa, melainkan pada prestise golongan.
Kalian adalah “fiksi” yang berbahaya. Kalian ada secara fisik di kantor-kantor mewah, tapi kontribusi nyata kalian bagi peradaban adalah nol besar. Kalian hanya operator dari sistem yang korup, yang menggunakan gelar doktor dan profesor sebagai tameng dari kejaran tanggung jawab moral.
Kalian merasa dunia ini berputar di sekitar kepentingan kalian. Kalian merasa ada karena “pintar”, kalian berhak mendapatkan lebih. Itu bukan kecerdasan, itu adalah mentalitas predator yang dibungkus dengan jubah akademik.
Definisi hebat menurut kalian adalah ketika bisa menduduki jabatan komisaris atau direksi (sempit sekali definisi suksesnya). Namun bagi rakyat kecil, hebat itu adalah ketika harga beras murah dan pendidikan gratis tersedia dan tidak ada siswa, mahasiswa, rakyat kecil yang putus sekolah karena tidak bisa bayar SPP, UTS atau UAS. Kemana Dana BOS dan DAK? masuk kantong pribadi ya ? Buat beli mobil mewah, rumah, tanah atau untuk gaya hidup. Jurang antara definisi kalian dan realita rakyat adalah bukti bahwa kalian sedang mengalami skizofrenia sosial.
IQ 78 bukan hanya sekadar angka statistik, itu adalah cermin kegagalan massal para pendidik dan pejabat yang urus dunia pendidikan Indonesia. Kalian sibuk mengejar akreditasi internasional sementara kualitas manusia Indonesia dibiarkan terbengkalai. Kalian mengejar peringkat kampus di dunia, tapi membiarkan moralitas bangsa jatuh ke titik nadir, ini hebat versi siapa?
Bagaimana kalian bisa tidur nyenyak saat tahu ada jutaan anak putus sekolah sementara kalian menikmati fasilitas negara? Apakah di dalam sujud kalian, kalian tidak merasakan bau busuk dari uang yang kalian makan, uang yang seharusnya menjadi buku dan pensil bagi mereka yang membutuhkan?
Pasal 33 UUD 1945 telah kalian pelintir menjadi “Pasal 33 untuk kelompok Kami”. Kekayaan alam dikuras, hutan digunduli, dan laut dikeruk, semuanya atas nama “kajian ilmiah” yang kalian tandatangani. Kalian adalah stempel intelektual bagi penghancuran ekologi dan ekonomi kerakyatan.
Jika ilmu tidak mampu melahirkan keadilan sosial, maka ilmu itu adalah sampah. Dan hari ini, kita melihat gunung sampah intelektual yang menumpuk di kantor-kantor pemerintahan. Kalian adalah para pengkhianat yang paling berbahaya karena kalian berkhianat dengan cara yang sangat halus dan terstruktur.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Jangan tertawa. Standar keadilan kalian hanya sejauh kepentingan perut kalian sendiri. Jika rakyat kecil mulai berteriak menuntut haknya, kalian akan dengan cepat mencap mereka sebagai “anti-pembangunan” atau “tidak mengerti sistem”.
Kalian merasa tidak boleh dicubit, tapi kalian mencambuk masa depan anak-anak Indonesia setiap hari dengan sistem yang diskriminatif. Kalian menciptakan sistem pendidikan yang hanya bisa diakses oleh si kaya, lalu kalian heran mengapa rakyat kecil tetap miskin. Itu bukan ketidaksengajaan, itu adalah desain sistematis.
Kita butuh “Revolusi Kejujuran” yang radikal. Pembersihan total dari para penyusup berijazah palsu dan mereka yang berijazah asli tapi bermental palsu. Presiden harus sadar bahwa mengumpulkan para profesor ini tanpa melakukan audit moral adalah tindakan sia-sia.
Jangan biarkan satu pun “penyusup” ini merasa aman. Mereka yang menggunakan kecerdasannya untuk memanipulasi anggaran dan merancang kebocoran harus diseret ke hadapan pengadilan rakyat. Karena kerugian 3 Kuadriliun rupiah bukan sekadar angka, itu adalah nyawa-nyawa yang hilang karena kemiskinan akut di bumi Nusantara.
Kalian bangga dengan predikat “elit”? Elit macam apa yang membiarkan bangsanya menjadi kuli di negeri sendiri sementara kalian sibuk menjadi broker bagi kepentingan asing melalui kebijakan-kebijakan yang kalian buat?
Wahai para cendekiawan, kembalilah ke khitah manusia. Ilmu itu untuk membebaskan, bukan untuk membelenggu. Ilmu itu untuk menerangi, bukan untuk membakar harapan orang lain demi menghangatkan diri sendiri.
Jika hari ini rakyat kecil mulai berpikir untuk “merampok balik” hak mereka, jangan salahkan mereka. Itu adalah reaksi alami terhadap kezaliman yang kalian lakukan secara intelektual selama puluhan tahun. Kalianlah yang pertama kali merampok mereka melalui kebijakan dan sistem.
Ingatlah, sejarah tidak akan pernah ramah kepada para pengkhianat. Sejarah akan mencatat nama-nama kalian bukan sebagai pahlawan pendidikan, melainkan sebagai parasit yang menghisap nutrisi bangsa hingga kurus kering.
Masa depan anak Indonesia adalah harga mati. Siapa pun yang mencoba mempermainkannya, meski bergelar profesor sekalipun, adalah musuh negara. Tidak ada kompromi bagi mereka yang menukar integritas dengan kursi jabatan di bank-bank pemerintah atau BUMN.
Narasi ini adalah guncangan bagi bawah sadar kalian. Berhentilah berpura-pura tidak tahu. Berhentilah bersembunyi di balik analisis data yang bias. Rakyat sudah cerdas, mereka tahu siapa yang benar-benar bekerja dan siapa yang hanya pandai bersilat lidah.
Pada akhirnya, hanya ada satu pertanyaan yang tersisa. Masihkah ada sedikit saja sisa kemanusiaan di balik jubah toga kalian? Ataukah kalian sudah sepenuhnya menjadi mesin yang diprogram untuk menghancurkan negeri ini dari dalam secara perlahan tapi pasti?
Penulis: ADAM ALI
