RADAR BLAMBANGAN.COM, | Sulawesi Tengah – Di tengah berkembangnya cerita-cerita rakyat yang kian bercampur dengan mitos, muncul upaya serius dari berbagai kalangan untuk meluruskan kembali sejarah tokoh besar bangsa yang selama ini disalahpahami. Salah satunya adalah sosok Raja Manggerante, yang selama ini kerap dikaitkan dengan dunia gaib dan legenda kota tak kasat mata Wentira.
Padahal, berdasarkan penelusuran sejarah dan cerita turun-temurun dari para tokoh adat serta masyarakat setempat, Raja Manggerante bukanlah sosok makhluk halus sebagaimana yang banyak dipercayai. Ia adalah manusia nyata seorang ulama kharismatik, pejuang ideologis, sekaligus tokoh spiritual yang memiliki pengaruh besar di tanah Sulawesi.
Raja Manggerante yang juga dikenal dengan nama Pue Lasadindi atau Pue Asap, merupakan figur yang dihormati karena keteguhan iman dan perjuangannya melawan penjajahan. Ia bahkan dijuluki “Mangge Rante” atau “orang tua berantai besi”, lantaran kisah legendarisnya yang mampu lolos dari penjara kolonial Belanda, hingga akhirnya harus dirantai untuk membatasi geraknya.
Namun, dari kisah heroik itulah, muncul distorsi sejarah yang perlahan mengaburkan fakta. Sosoknya yang sakti dan sulit ditangkap justru digiring menjadi narasi mistis, seolah ia adalah raja dari dunia gaib. Padahal, menurut sejumlah tokoh masyarakat, hal tersebut merupakan bentuk pemalsuan sejarah yang tidak sejalan dengan nilai-nilai penghormatan terhadap jasa pahlawan sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.
Raja Manggerante juga dikenal sebagai Datuk Karama seorang ulama yang taat beribadah, memiliki banyak murid, dan berperan dalam penyebaran nilai-nilai keislaman di Sulawesi Tengah. Ia hidup di tengah masyarakat, berdakwah, dan membangun perlawanan terhadap kolonialisme, bukan memimpin kerajaan gaib seperti yang selama ini disangkakan.
Dalam catatan masyarakat, ia wafat pada tahun 1958 dan dimakamkan di Desa Randomayang, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Meski demikian, sebagian kalangan masih meyakini bahwa ia “mukso” atau menghilang secara spiritual, sebuah keyakinan yang berkembang dalam tradisi lokal.
Meluruskan sejarah Raja Manggerante bukan sekadar membedakan fakta dan mitos, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghargai jasa para leluhur bangsa. Terlebih, ia kini termasuk salah satu tokoh yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, sejajar dengan pejuang besar lainnya dari Sulawesi.
Sejumlah tokoh bahkan menegaskan bahwa dalam sejarah ulama besar di Sulawesi Tengah, setidaknya ada dua nama penting yang patut dicatat, yakni Syeh Datuk Karama Manggerante dan KH Idrus Al Jufri. Keduanya merupakan figur nyata yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan umat.
“Sejarah tidak boleh dipelintir oleh kepentingan atau mitos yang menyesatkan. Kita wajib meluruskan, agar generasi penerus memahami siapa sebenarnya para pejuang kita,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Kini, suara untuk mengembalikan kehormatan Raja Manggerante sebagai ulama dan pejuang terus menguat. Sebuah langkah penting untuk memastikan bahwa sejarah bangsa tetap berdiri di atas kebenaran, bukan sekadar cerita yang terdistorsi oleh waktu dan tafsir yang keliru.***
