RADAR BLAMBANGAN.COM, | JAKARTA – Pernyataan tegas bernuansa reflektif mencuat dari lingkungan internal jaringan Fast Respon Nusantara (FRN) terkait sikap sejumlah pihak yang memilih menjauh bahkan memblokir komunikasi dengan Ketua Umum FRN Polri, R.Mas MH Agus Rugiarto Sastrodiarjo, SH. Sikap tersebut dinilai sebagai bentuk ketidaktahuan terhadap sejarah, nilai, dan ikatan moral yang melatarbelakangi keberadaan organisasi tersebut.
Dalam narasi yang beredar, ditekankan bahwa meninggalkan FRN dan menjauh dari institusi Polri bukan sekadar persoalan pilihan personal, melainkan mencerminkan lemahnya pemahaman terhadap akar historis dan nilai pengabdian yang telah diwariskan lintas generasi.
Sosok Agus Rugiarto Sastrodiarjo disebut memiliki latar belakang keluarga yang kuat dalam tradisi kepolisian. Ayahnya, Kusnandar Sastrodiarjo, yang pernah menempuh pendidikan di AKABRI tahun 1968 sebelum berkarier sebagai arsitek di PT Adhi Karya, disebut pernah memberikan pesan mendalam kepada putranya.
Dalam pesannya, sang ayah menekankan bahwa kesuksesan pribadi baik sebagai pengacara ternama di ibu kota, memiliki kantor megah, maupun kehidupan mapan tidak boleh membuat seseorang melupakan asal-usul dan jati dirinya. Ia mengingatkan bahwa darah kepolisian yang mengalir dalam keluarga merupakan tanggung jawab moral untuk tetap berdiri bersama institusi Polri.
“Jangan pernah lupa siapa dirimu dan dari mana kamu berasal. Kamu bukan hanya cucu dari keluarga biasa, tapi memiliki garis keturunan yang pernah mengabdi sebagai Kapolri. Itu adalah amanah, bukan sekadar kebanggaan,” demikian pesan yang dinarasikan.
Lebih lanjut, pesan tersebut juga menyinggung pentingnya menjaga hubungan spiritual dan historis dengan para pendahulu, termasuk melalui ziarah sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan generasi sebelumnya.
Pandangan senada disebut juga pernah disampaikan oleh tokoh nasional, termasuk mantan Presiden Republik Indonesia ke-6 dan ke-7, yang mengamini pentingnya menjaga nilai loyalitas, sejarah, dan pengabdian terhadap institusi negara, khususnya Polri.
Di tengah dinamika sosial dan derasnya arus informasi digital, narasi ini menjadi pengingat bahwa loyalitas dan integritas tidak dibangun secara instan, melainkan melalui pemahaman sejarah, penghormatan terhadap leluhur, serta komitmen terhadap pengabdian kepada masyarakat dan negara.
FRN sendiri dikenal sebagai wadah yang mengedepankan sinergi antara masyarakat dan kepolisian, dengan semangat “Polri untuk Masyarakat” sebagai landasan utama gerakan.
Dengan demikian, sikap meninggalkan atau memutus komunikasi dengan organisasi dan tokoh yang memiliki rekam jejak panjang dinilai bukan hanya kerugian secara personal, tetapi juga berpotensi memutus mata rantai nilai yang selama ini dijaga dan diwariskan.***
