RADAR BLAMBANGAN.COM, | JAKARTA, – Dalam dinamika penegakan hukum yang terus bergerak cepat di era modern, Ketua Umum Fast Respon Nusantara (FRN), Agus Flores, melontarkan pernyataan yang menggugah sekaligus sarat makna historis. Ia menegaskan bahwa jika Kepolisian Negara Republik Indonesia hari ini menjadikan sosok Hoegeng Iman Santoso sebagai maskot keteladanan, maka Fast Respon justru menghidupkan kembali semangat juang Kapolri ke-2, Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, sebagai inspirasi utama dalam bergerak.
Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Agus Flores melihat bahwa sosok Kapolri awal republik tersebut bukan sekadar figur administratif, melainkan simbol keberanian di garis depan. Dalam masa-masa genting pasca kemerdekaan, sosok ini dikenal hidup di bawah bayang-bayang ancaman, mempertaruhkan nyawa demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Tipikalnya jelas pejuang sejati. Hidupnya di ujung senjata. Pilihannya hanya dua: mati atau hidup demi NKRI,” tegas Agus Flores dengan nada penuh semangat.
Menurutnya, karakter seperti inilah yang kini coba dihidupkan kembali oleh jaringan Fast Respon Nusantara. Bukan hanya bergerak cepat dalam merespons persoalan sosial dan hukum, tetapi juga membawa keberanian moral dalam menyuarakan kebenaran, bahkan di tengah tekanan.
Agus Flores bahkan menyamakan semangat tersebut dengan karakter wartawan FRN di lapangan yang tidak sekadar meliput, tetapi juga berdiri di garda terdepan dalam membela kepentingan publik. Baginya, jurnalisme bukan hanya profesi, melainkan bagian dari perjuangan menjaga kedaulatan bangsa.
“Ini bukan sekadar kerja. Ini panggilan jiwa. Wartawan FRN harus berani, tangguh, dan siap mempertahankan NKRI dengan cara mereka,” lanjutnya.
Pernyataan ini pun menjadi refleksi tajam di tengah tantangan zaman, ketika keberanian dan integritas kerap diuji. Di saat sebagian pihak memilih aman, Fast Respon justru mengambil posisi berbeda menghidupkan kembali semangat juang para pendahulu yang tak gentar menghadapi risiko.
Dengan mengusung nilai-nilai historis yang kuat, Agus Flores menegaskan bahwa perjuangan belum usai. Dan seperti para tokoh bangsa terdahulu, pilihan itu tetap sama: berdiri tegak untuk negeri, atau hilang ditelan zaman.***
