RADAR BLAMBANGAN.COM, | Banyuwangi, – Omah Kopi Telemung, pada senja yang turun perlahan, Kamis, **25 Desember 2025**, tidak hanya dipenuhi aroma kopi yang mengendap hangat. Di ruang yang akrab itu, kata-kata bernaung, makna saling menyentuh, dan waktu seperti sengaja melambat. Antologi puisi *Yo Mung* karya Samsudin Adlawi dibedah bukan sekadar sebagai buku, melainkan sebagai peristiwa batin perjumpaan antara penyair, pembaca, dan denyut kebudayaan Banyuwangi.
Forum bedah buku tersebut menghadirkan Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, Ketua Komunitas Panji Blambangan KRT Ilham Triadi, budayawan Killing Osing Banyuwangi Aekanu Hariyono, Elvin Hendrata, Pramoe Soekarno, Ribut Kalembuan, serta para pegiat sastra lintas komunitas. Diskusi dipandu oleh Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi dengan alur cair namun tetap tajam seperti kopi hitam yang jujur pada pahitnya.
Hasan Basri menekankan kejujuran estetik yang menjadi napas *Yo Mung*. Menurutnya, keberanian Samsudin menggunakan bahasa daerah, bahkan menjadikannya judul antologi, adalah sikap kebudayaan yang jarang diambil penyair. “Ini bukan sekadar pilihan bahasa, melainkan pilihan sikap,” ujarnya. Puisi-puisi dalam *Yo Mung*, kata Hasan, hadir tanpa pretensi, bersahaja, dan setia pada pengalaman sehari-hari.
Sejarawan Elvin Hendrata menggarisbawahi produktivitas Samsudin Adlawi yang terus menulis di tengah kesibukan. Ia melihat kesetiaan Samsudin pada Banyuwangi sebagai ruang inspirasi yang tidak pernah ditinggalkan. Senada, Fatah Yasin Nor menilai *Yo Mung* memiliki perbedaan dibanding karya Samsudin sebelumnya: bahasanya lebih ringkas, sederhana, namun menyimpan lapisan makna yang menuntut pembacaan ulang.
Senja kian menua ketika sesi pembacaan puisi oleh para narasumber pembanding dimulai. Hasan Basri membacakan puisi berjudul **“Yo Mung”**, selaras dengan judul buku, seolah menegaskan sikap estetik yang jujur dan bersahaja. Elvin Hendrata kemudian membacakan puisi berjudul **“Titik”**, puisi minimalis yang menegaskan bahwa akhir dan awal kerap bertemu pada satu titik kesadaran.
Ribut Kalembuan, yang dikenal sebagai gitaris, membacakan puisi dengan antusiasme khas seniman bunyi. Ketertarikannya pada karya Samsudin terasa kuat, seakan ia sedang “mendengarkan” puisi menangkap ritme, jeda, dan resonansi kata yang berpotensi menjelma nada.
Pada bagian paling akhir, setelah diskusi dan pembacaan lain mengendap, Syafaat selaku moderator menutup sesi dengan membacakan puisi berjudul **“Semut yang Hilang”**. Puisi yang ditulis hanya dalam tiga baris itu justru menghadirkan keheningan paling panjang. Kesederhanaannya menyisakan ruang tafsir, seolah mengajak hadirin merenungi kehilangan-kehilangan kecil yang sering luput dicatat, namun diam-diam membentuk kesadaran.
Syafaat kemudian menegaskan kembali kekhasan *Yo Mung* yang ringkas namun dalam. “Puisi-puisi ini tidak selesai dalam sekali baca,” ujarnya. Ia mengangkat detail dari puisi “Pada Lupa”, khususnya frasa “hitam lenyak seketika” pada baris penutup, yang terasa ganjil sekaligus menggoda. Kata itu mendorong pembaca berdialog—membuka kamus, menafsir, bahkan berbeda makna. Bagi Syafaat, perbedaan tafsir antara penulis dan pembaca adalah ruang hidup puisi.
KRT Ilham Triadi membagikan pengalamannya saat membaca salah satu puisi pendek dalam *Yo Mung* yang terasa sangat personal. Puisi itu seolah menyuarakan kegelisahan yang sedang ia alami sendiri di hening senja. Pada titik itulah puisi bekerja sebagai jembatan batin—menghubungkan pengalaman penyair dengan pengalaman pembacanya.
Mayoritas peserta bedah buku menyampaikan apresiasi, dengan kesadaran bahwa puisi-puisi Samsudin Adlawi tidak selalu mudah didekati. Menanggapi hal tersebut, Samsudin mengucapkan terima kasih atas keberagaman pembacaan. Ia menjelaskan bahwa puisinya lahir dari perenungan panjang, bacaan yang dalam, serta napas sufisme yang pelan namun setia—sebuah pendekatan yang juga ditegaskan oleh Acep Zamzam Noor dalam endorsement antologi ini.
“Puisi-puisi dalam antologi ini bagi saya terasa menyejukkan; ungkapannya singkat, jernih, menyaran tema kesederhanaan, keseharian, peristiwa biasa—bahkan yang tampak kecil di pagi hari—namun dilukiskan menjadi sesuatu yang tidak hanya personal, melainkan juga universal,” tulis Acep Zamzam Noor.
Senja di Omah Kopi Telemung pun akhirnya benar-benar menutup hari. Namun kata-kata belum selesai bekerja. *Yo Mung* meninggalkan kesan sebagai lebih dari sekadar buku puisi—ia adalah undangan untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan membaca ulang hidup dari hal-hal paling sederhana yang sering terlewatkan.(syaf)
