oleh: Syafaat
Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi
RADAR BLAMBANGAN.COM, | Malam di Banyuwangi tidak sekadar gelap yang diam-diam menutup jalan. Ia hadir perlahan, bergerak tanpa terburu-buru, seperti pemuda menyusun kata cinta kepada kekasihnya, memandang hiruk-pikuk manusia dengan mata yang telah terbiasa menyaksikan perubahan. Langit di atas kadang berat, kadang lapang, kadang sepi, kadang bersahabat. Di sana, malam menenun percakapan menjadi benang doa yang tak selalu tuntas diucapkan. Pada malam itu, saya hanyalah seorang pengamat di emperan, menangkap serpihan kata yang jatuh dari lingkaran diskusi, yang bagi sebagian orang penting, bagi malam hanyalah bisik yang lewat.
Acara itu dinamai Tandang Bareng: Evaluasi, Partisipasi, dan Penguatan Peran Masyarakat dalam Pelayanan Publik. Nama yang hangat, seperti undangan, namun seperti cahaya yang menembus jendela, ia tidak merata. Di lingkaran duduk mereka yang terbiasa berbicara atas nama banyak orang—pejabat, tokoh masyarakat, aktivis. Di luar lingkaran, ada saya dan banyak orang lain yang hanya ingin mendengar, memberi ruang bagi keraguan untuk menari perlahan. Dari jarak itu, suara terdengar lebih jelas. Sebab jarak memberi ruang bagi keraguan, dan dari keraguan itu, pemahaman merambat perlahan, lembut, seperti aliran sungai yang tak terburu.
Diskusi malam itu mengalir pada sesuatu yang sederhana di kertas, namun rumit dalam kehidupan nyata: pembatasan jam operasional swalayan dan toko modern. Di dokumen resmi, tertulis rapi, nomor dan tanda tangan seperti mantra administratif. Namun di udara, kata-kata itu hidup, bergeser, dipertanyakan, dirasakan. Keberatan muncul, lembut tapi tegas, seperti api kecil yang enggan padam. “Ini tidak adil,” ujar seorang peserta. Kata “adil” berkelok, seperti bayangan yang berubah sesuai sudut pandang. Di satu sisi, pembatasan tampak menghambat geliat pariwisata; kota yang terbuka bagi pengunjung kini menata batas, membatasi denyut ekonomi. Bukankah wisatawan datang tanpa melihat jam? Bukankah kota hidup seharusnya selalu siap melayani?
Namun dari sisi lain, ada suara lembut yang menegaskan bahwa kota bukan hanya milik pengunjung, tetapi juga bagi mereka yang tinggal. Di balik cahaya toko modern, ada bayangan warung kecil yang perlahan tersisih. Persaingan tidak selalu adil. Kebijakan ini lebih dari sekadar jam buka atau tutup; ia soal siapa diberi ruang untuk bertahan dan siapa yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang tak selalu mereka pahami. Seorang pembicara menyampaikan pandangannya dengan tenang. Kalimatnya menetap di udara: “Kalau kita bicara keadilan, lihat juga mereka yang tak punya daya.” Kata-kata itu membuka ruang sunyi, memaksa mata melihat hal-hal yang sering terabaikan. Warung kecil, toko kelontong, pedagang sederhana, mereka adalah denyut ekonomi rakyat yang paling jujur. Tidak ada pendingin, tidak ada sistem inventori canggih, tidak ada promosi gemilang. Tapi ada kedekatan: pembeli bukan sekadar angka, melainkan tetangga, kerabat, wajah yang dikenal. Ada kepercayaan dan utang kecil yang dimaklumi, senyum yang menjadi pengikat.
Modernitas bergerak dengan logikanya sendiri: efisiensi, kecepatan, kepastian. Toko modern hadir dengan janji sederhana: apa yang kau butuhkan tersedia, kapan pun kau datang. Di tengah dua realitas itu, pembatasan jam operasional adalah upaya menahan laju yang terlalu cepat bukan menghentikannya, tapi memberi napas bagi yang tertinggal. Namun pertanyaannya tetap menggantung: apakah membatasi yang besar cara terbaik melindungi yang kecil, atau sekadar tanda bahwa kita belum mampu menciptakan persaingan sehat?
Dalam diskusi malam itu, jawaban pasti tak ditemukan semuanya. Yang ada hanyalah kesadaran: setiap pilihan membawa konsekuensi. Membiarkan toko modern tanpa batas mempercepat pertumbuhan, tapi memperlebar jurang antara yang kuat dan yang lemah. Membatasi memberi napas bagi yang kecil, tapi mengurangi kenyamanan yang telah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Seorang aktivis menyinggung aliran pajak, bagaimana keuntungan toko besar tidak sepenuhnya kembali ke daerah, hanya sedikit saja mungkin. Di sisi lain, suara sederhana muncul: “Kalau tengah malam butuh sesuatu, harus ke mana?” Pertanyaan itu seperti tetes hujan di jalan sepi, mengingatkan bahwa kebutuhan tidak menunggu jadwal.
Percakapan berputar di antara dua kutub: melindungi atau melayani, idealisme atau kenyamanan, masa lalu yang ingin dipertahankan atau masa depan yang datang tanpa permisi. Kopi di tangan mulai dingin. Pahitnya memberi kesadaran: kebijakan tidak menuntaskan kompleksitas. Kehidupan tidak memberi semuanya sekaligus. Keadilan bukan soal menyetarakan, tapi menjaga agar tidak ada yang sepenuhnya hilang. Percakapan mereda bukan karena sepakat, tapi karena waktu menuntut berhenti. Dari emperan itu, saya menyadari satu hal: keberadaan yang kecil bukan remeh. Saat yang kecil hilang, bukan sekadar usaha yang hilang, tapi juga cara hidup, cara kita saling mengenal, membangun kepercayaan sederhana. Kota dengan gedung tinggi dan sistem rapi mungkin modern, tapi bisa kehilangan sesuatu yang halus, yang tak diukur angka, tapi terasa dalam keseharian.
Di antara terang toko modern dan redup warung kecil, kita sedang memilih kehidupan seperti apa yang ingin dijalani. Pilihan itu tidak harus ekstrem. Yang dibutuhkan adalah pemberdayaan: memberi ruang bagi yang kecil untuk bertahan sekaligus bersaing dengan caranya sendiri. Waktu, kesabaran, kebijakan berkelanjutan, itulah yang diperlukan.
Dari diskusi itu, saya belajar sambil menyeruput kopi: mendengar adalah memahami. Setiap perdebatan punya lapisan tersembunyi, dan keadilan bukan soal kesamaan, tapi menjaga agar tidak ada yang hilang. Malam di Banyuwangi kembali pada tenangnya, tapi bagi saya, ia meninggalkan jejak: kesadaran bahwa kehidupan sosial selalu berada di tarik-menarik yang tak pernah selesai. Dan kita, sekecil apa pun peran kita, menentukan arah kota ini tetap hidup dan bernafas.
