RADAR BLAMBANGAN.COM, | Data keberhasilan atas pertumbuhan yang signifikan pada sektor informal, tidak selalu menciptakan paradigma positif atas peningkatan ekonomi dan pembangunan suatu daerah. Bisa jadi kondisi tersebut dikarenakan, pembangunan daerah pada sektor riil operasi produksi, pada bidang usaha yang menyerap banyak tenaga kerja, ternyata tidak tumbuh di daerah tersebut.
Sektor riil operasi produksi manufaktur merupakan daya ungkit sektor yang dapat signifikan menciptakan multiplayer effect, karena rangkaian panjang terhadap suatu proses, memerlukan suplay change yang panjang, dan berdampak pada penciptaan lapangan pekerjaan yang cukup besar. Data tumbuhnya sektor informal apalagi umkm, dapat diartikan lemahnya daya ungkit ekonomi, sehingga menurunkan angka tenaga kerja, beralih mandiri dan membuka usaha, hanya untuk bertahan hidup (survival) mode bertahan hidup). Karena kondisi pekerjaan yang bersifat profesional tidak tercipta. Secara data, kondisi pelaku usaha, pada sektor informal dan umkm, jumlah semakin tinggi,
hampir menyentuh angka 200 ribu pelaku usaha di Banyuwangi.
Sektor umkm, bukanlah struktur yang kuat sebagai fundamental ekonomi suatu daerah, karena daerah memerlukan devisa, untuk peningkatan daya beli masyarakatnya. Uang yang berputar, pada sektor informal mengandalkan hanya pada kondisi uang daerah dan lebih kritis lagi, putaran uang hanya terjadi dan mengandalkan pada anggaran daerah, gaji ASN dan TNI Polri. Belum lagi beban mereka terserap /habis, ketika pembelanjaan pada sektor konsumtif, uang daerah yang beredar menjadi keluar, cukup besar. Hal ini menciptakan persaingan yang tidak sehat bagi umkm yang semakin terpuruk uang daerah peredarannya kecil.
Perspektif membangun daerah seharusnya pemerintah mampu menggerakkan roda ekonomi, dengan kebijakan yang lebih menarik/mendukung dalam investasi. Kebijakan layanan publik, yang selama ini mandeg dan stag, seharusnya tidak dihambat, seharusnya menjadikan ramah terhadap pelaku usaha sehingga ramah investasi.
Kondisi keterpurukan akan menambah angka kemiskinan yang semakin menganga ke depan, ditambah respons perubahan atas kinerja selama ini, Masyarakat Banyuwangi, memandang tidak ada perubahan yang signifikan berarti. Periode kepemimpinan dinasti daerah (suami ke istri) dirasakan menjadi pola hambatan besar, dalam pemahaman dan pradigma substansi strategi maupun subtansi membangun daerah.
Dihadapkan pada indakator umkm tumbuh meningkat di Banyuwangi, jangan dahulu dianggap prestasi yang menggembirakan. Masyarakat harus disadarkan atas membangun perubaham dan mimpi, bahwa devisa daerah yang tumbuh, diperlukan sumber daya profesional, partisipasi publik yang luas, regulasi dan kebijakan yang tidak anomali dan pradoks atas kepemimpinan/leadership daerah yang berwawasan luas. Salah satunya, strategi bagaimana sektor industri dapat tumbuh dan berkembang, sebagai rangkaian tumbuhnya rantai pasok yang panjang di daerah. Satu kawasan industri tumbuh berkembang saja, sudah bisa menyerap 100-200 ribu tenaga kerja (bisa hilang angka kemiskinan).
Periode kedinastian, harapan publik, tercipta kelancaran dan terjadi ungkitan yang besar dan kelancaran usaha di sektor riil, sehingga menjadikan lapangan kerja tercipta banyak dan daya beli masyarakata dapat meningkat.
Bukan faktor pemimpin yang hanya berkutat pada urusan kecil-kecil/remeh temeh, masih dibuat dan merepotkan warganya sendiri. Bupati dan asisten dapat berinteraksi skala regional, nasional bahkan skala global. Sehingga ruang-ruang pembangunan dan ekonomi pada sektor riil, manufaktur, operasi produksi dalam kawasan industri bisa terwujud nyata dan riil.
