RADAR BLAMBANGAN.COM, | Jakarta – Aktivis Filsafat Logika Berpikir, Raden Teguh Firmansyah, melontarkan kritik keras terhadap kebijakan program MBG yang dinilai semakin menunjukkan ketimpangan logika kebijakan negara.
Menurutnya, ketika anggaran ratusan triliun rupiah hanya berujung pada bantuan makanan bernilai sekitar sepuluh ribu rupiah per anak per hari, maka negara sedang memperlihatkan sebuah kebijakan yang kehilangan rasionalitas sosial.
“Dalam logika berpikir yang sehat, jika negara memiliki anggaran sebesar itu, maka prioritasnya harus pada penguatan ekonomi keluarga, bukan sekadar distribusi makanan yang nilainya bahkan tidak sebanding dengan potensi dana yang beredar,” tegas Raden Teguh Firmansyah.
Ia menilai program tersebut berpotensi menciptakan rantai proyek besar, bukan solusi kesejahteraan rakyat.
Ketika sistem pengadaan dikuasai vendor besar, kontraktor logistik, dan jaringan proyek, maka yang terjadi bukan pemerataan ekonomi, melainkan konsentrasi keuntungan pada segelintir pelaku proyek.
“Ini bukan multiplier effect untuk UMKM, tetapi multiplier proyek bagi kelompok yang memiliki akses pada kekuasaan,” ujarnya dengan nada kritis.
Raden Teguh juga mengingatkan bahwa kebijakan publik seharusnya lahir dari kejujuran logika dan keberpihakan pada rakyat kecil, bukan sekadar narasi politik yang terlihat baik di permukaan.
“Jika uang ratusan triliun itu benar-benar masuk langsung ke masyarakat, khususnya keluarga miskin, maka ekonomi lokal akan bergerak jauh lebih cepat. Tetapi jika uang itu berputar di meja-meja proyek, maka rakyat hanya akan menjadi penonton dari anggaran yang sebenarnya milik mereka sendiri.”ujarnya. Senin. 9-3-2026.
Ia pun mendesak pemerintah pusat hingga pemerintah daerah, termasuk Banyuwangi, untuk berani membuka secara transparan rantai distribusi, pengadaan, serta aktor-aktor yang menikmati proyek tersebut.
“Negara tidak boleh mengubah kemiskinan rakyat menjadi ladang proyek. Karena ketika kebijakan kehilangan logika moralnya, maka yang lahir bukan kesejahteraan, melainkan kemiskinan yang dipelihara oleh sistem itu sendiri,” pungkasnya.
