RADAR BLAMBANGAN.COM, | Banyuwangi – Situasi mencekam menyelimuti jalur utama Banyuwangi Utara selama tiga hari terakhir. Kemacetan panjang tak kunjung terurai, berubah menjadi “neraka lalu lintas” yang melumpuhkan aktivitas warga dan pengguna jalan, terutama di sekitar Pelabuhan ASDP Ketapang hingga kawasan Alasbuluh.
Pada Selasa (31/03/2026), antrean kendaraan roda empat terlihat mengular tanpa jeda. Sejak pagi, lautan kendaraan sudah memenuhi badan jalan, bahkan pada pukul 11.00 WIB, kepadatan dilaporkan telah mencapai Alasbuluh. Situasi ini tak hanya memicu kelelahan fisik para pengendara, tetapi juga memicu keresahan sosial di tengah masyarakat.
Akses menuju permukiman warga praktis lumpuh. Jalan-jalan desa yang biasanya lengang kini berubah menjadi jalur pelarian kendaraan yang putus asa menghindari antrean. Ironisnya, banyak pengendara nekat melawan arus dan menerobos jalan kampung, membuat warga setempat terjebak di lingkungan mereka sendiri.
Edi, warga Bangsring, menggambarkan kondisi tersebut sebagai kekacauan yang tak terkendali. Aktivitasnya terganggu total, bahkan ia mengaku gagal mengirim barang ke Pelabuhan Tanjung Wangi akibat kemacetan yang tak bergerak.
“Bukan cuma macet, ini sudah bikin aktivitas kami lumpuh. Jalan kampung penuh kendaraan, kami malah jadi seperti tamu di tempat sendiri,” keluhnya.
Penderitaan juga dirasakan para sopir angkutan. Hariyanto, sopir truk asal Malang, mengaku harus berjuang berjam-jam hanya untuk menempuh jarak yang seharusnya bisa dilalui dalam waktu singkat.
“Dari jam 5 pagi terjebak di Watudodol, sampai jam 10 lebih baru sampai depan pelabuhan. Ini bukan perjalanan, ini siksaan di jalan,” ujarnya dengan nada lelah.
Kemacetan yang tak kunjung terurai ini menjadi alarm keras bagi pihak terkait. Tanpa penanganan cepat dan strategi yang tepat, kondisi ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi, konflik sosial, hingga gangguan distribusi logistik di jalur vital penghubung Jawa-Bali.
Hingga berita ini diturunkan, antrean kendaraan masih terus mengular, sementara harapan masyarakat akan solusi nyata semakin mendesak. Banyuwangi Utara kini benar-benar berada di titik kritis kemacetan.***
