RADAR-BLAMBANGAN.COM, | JEMBER, SIDOMULYO, – Suasana penuh kebersamaan dan nilai persaudaraan mewarnai pelaksanaan Sedekah Bumi sebagai wujud syukur atas hasil panen kopi di Dusun Krajan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, yang berada di kawasan lereng Gunung Gumitir, Selasa (1/9/2026).
Tradisi yang digelar mulai pukul 16.00 WIB tersebut menjadi momentum istimewa bagi masyarakat setempat. Tidak hanya sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi dan panen kopi yang melimpah, Sedekah Bumi juga menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan dalam kerukunan.
Masyarakat dari sejumlah wilayah RT dan RW di Dusun Krajan, di antaranya RT 01, RT 02, RT 03, RT 04, RT 05 dan RT 10, tumpah ruah mengikuti kegiatan tersebut.
Para tokoh masyarakat, ustaz, sesepuh, hingga kalangan pemuda turut hadir dan membaur dalam suasana penuh kekeluargaan. Menariknya, warga dari umat Islam dan Nasrani bersama-sama hadir dalam kegiatan syukuran tersebut dengan tetap saling menghormati keyakinan masing-masing.
Pemandangan tersebut seolah menjadi pesan kuat dari lereng Gumitir bahwa kerukunan bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dusun Krajan.
Dalam tradisi Sedekah Bumi, warga membawa bakul berisi tumpeng dan berbagai hidangan, sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rezeki, kesehatan, keselamatan, umur panjang, serta hasil bumi yang telah diterima masyarakat.
Tradisi Sedekah Bumi sendiri merupakan salah satu adat masyarakat Jawa yang hingga kini masih terus dilestarikan. Kegiatan tersebut umumnya dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, rasa syukur atas berbagai nikmat kehidupan, serta penghormatan kepada para leluhur yang dahulu membuka dan merintis kawasan yang kini menjadi tempat tinggal masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat juga menyiapkan berbagai sajian tradisional, termasuk ingkung, yang memiliki makna simbolis tersendiri dalam tradisi masyarakat Jawa.
Sajian yang telah didoakan kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol harapan agar keberkahan, rezeki dan keselamatan dapat dirasakan bersama-sama.
Tak hanya mendoakan keselamatan masyarakat dan keberkahan hasil panen kopi, dalam acara tersebut warga juga turut mengenang serta mendoakan para leluhur.
Doa juga dipanjatkan untuk almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sosok tokoh bangsa dan ulama yang dikenal luas karena perjuangannya dalam menjaga nilai kemanusiaan, persatuan, toleransi, serta kehidupan berbangsa yang damai.
Bagi masyarakat Dusun Krajan Sidomulyo, Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi tahunan atau kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam dan sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Hasil panen kopi yang diperoleh dari tanah lereng Gumitir diyakini bukan hanya hasil dari kerja keras para petani, tetapi juga menjadi nikmat yang harus selalu disyukuri dan dijaga bersama.
Salah satu tokoh masyarakat, Nur Amin, menyampaikan harapannya agar tradisi tersebut terus menjadi perekat persaudaraan warga.
Dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga, masyarakat berharap kehidupan di Dusun Krajan Sidomulyo senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, keberkahan rezeki, serta kehidupan yang rukun, damai dan sentosa.
“Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, umur yang berkah, rezeki yang melimpah, serta hidup rukun dan damai. Sedekah Bumi ini menjadi pengingat agar kita selalu bersyukur kepada Tuhan, Allah semesta alam, yang telah memberikan limpahan nikmat kepada seluruh umat dan makhluk-Nya,” ungkap Nur Amin.
Di tengah berbagai perbedaan yang ada, masyarakat Dusun Krajan Sidomulyo justru menunjukkan bahwa persatuan dapat tumbuh dari rasa saling menghormati.
Dari bakul-bakul berisi tumpeng, doa-doa yang dipanjatkan, hingga kebersamaan masyarakat Islam dan Nasrani di lereng Gunung Gumitir, Sedekah Bumi panen kopi tersebut menjadi sebuah pesan sederhana namun kuat:
Berbeda keyakinan, tetap satu dalam persaudaraan. Bersyukur bersama, menjaga tradisi bersama, dan merawat kedamaian untuk generasi yang akan datang.
(Nur Aamiin) .
