RADAR-BLAMBANGAN.COM, | JAKARTA – Penanganan kecelakaan lalu lintas tak boleh sekadar cepat, tetapi juga harus tepat. Di balik hitungan detik yang menentukan keselamatan korban, kemampuan personel di lapangan menjadi faktor krusial.
Pesan itulah yang tergambar dalam simulasi kendaraan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), mobil Ransus Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan TPTKP yang digelar Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri di Taman Lalu Lintas Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pelatihan pengoperasian Mobil Olah TKP, Mobil PPGD dan Mobil Kejahatan Lalu Lintas (Jatanlin) yang berlangsung selama tiga hari, 16–18 September 2026.
Memasuki hari kedua, pelatihan tidak berhenti pada penyampaian teori. Para peserta langsung turun ke lapangan untuk mengikuti simulasi dan praktik penggunaan kendaraan beserta perangkat pendukungnya.
Dalam simulasi PPGD, peserta ditempa menghadapi berbagai kondisi darurat yang dapat terjadi dalam kecelakaan lalu lintas. Mulai dari korban mengalami henti napas dan henti jantung hingga korban dengan luka berat, termasuk cedera patah tulang.
Kompol Helmiyati dari Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri mengatakan, simulasi kendaraan olah TKP diikuti perwakilan dari enam Polda. Sementara simulasi mobil Ransus PPGD dan TPTKP melibatkan perwakilan dari lima Polda.
“Harapannya, para peserta yang mewakili Polda masing-masing dapat menguasai ilmu yang sudah diberikan oleh para instruktur, termasuk memahami kegunaan alat-alat yang ada di kendaraan,” ujar Kompol Helmiyati.
Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan peserta secara individu. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat ditularkan kepada personel lain ketika peserta kembali ke wilayah masing-masing.
“Setelah kembali ke Polda, mereka bisa mengajarkan kembali kepada rekan-rekannya sehingga kemampuan dalam mengoperasikan kendaraan tersebut dapat dikuasai bersama,” katanya.
Detik-detik penanganan korban menjadi salah satu fokus utama.
Peserta diberikan pemahaman mengenai pertolongan dasar terhadap korban kecelakaan dalam kondisi kritis, termasuk ketika korban mengalami henti napas maupun henti jantung.
Briptu Dudi Setiawan Haryanto, salah satu peserta, menilai materi pertolongan hidup menjadi bagian penting dalam pelatihan tersebut.
“Yang menarik dari pelatihan hari ini, kami belajar dasar-dasar pertolongan hidup, termasuk bagaimana menolong korban kecelakaan, terutama ketika korban mengalami henti napas atau henti jantung,” kata Briptu Dudi.
Tak berhenti di sana, peserta juga mempraktikkan penanganan korban dengan luka berat, termasuk patah tulang dan cedera lainnya. Proses penanganan dilakukan sejak korban berada di lokasi kejadian hingga proses evakuasi menuju rumah sakit.
“Kami juga belajar bagaimana menangani korban dalam kondisi luka berat, seperti patah tulang dan cedera lainnya, sampai membantu mengevakuasi korban untuk mendapatkan penanganan di rumah sakit,” jelasnya.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas personel dalam menghadapi kecelakaan lalu lintas. Dengan penguasaan kendaraan khusus, peralatan serta teknik penanganan korban, personel diharapkan mampu memberikan respons yang cepat dan tepat ketika berhadapan dengan situasi darurat di jalan raya.
Dari Cibubur, Korlantas Polri menempa personel agar tidak gagap menghadapi situasi kritis karena dalam penanganan kecelakaan, setiap detik dapat menjadi sangat berarti bagi keselamatan korban. (Mh)
