RADAR-BLAMBANGAN.COM, | BESUKI, SITUBONDO — Nama Besuki kembali menjadi sorotan. Di balik statusnya sebagai sebuah kecamatan di Kabupaten Situbondo, tersimpan jejak sejarah panjang yang oleh sejumlah literatur disebut pernah menempati posisi penting dalam perjalanan pemerintahan dan kekuasaan di kawasan timur Jawa.
Ketua Umum Fast Respon Counter Polri (FRN), Raden Mas MH Agus Rugiarto Astrodiarjo, SH, MH, mengungkap pandangannya mengenai sejarah Besuki yang menurutnya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Karesidenan Besuki serta figur legendaris Raden Bagus Kasim Wirodipuro alias Ki Pate Alos.
“Besuki itu kota tua. Setelah Yogyakarta dan Solo, wilayah ini memiliki sejarah kekuasaan yang sangat panjang. Sekarang kedudukannya hanya sebuah kecamatan. Karena itu, sejarah Besuki jangan sampai hilang begitu saja,” ujar Agus Flores.
Menurut Agus, jejak sejarah Besuki banyak dikaitkan dengan literatur kolonial Belanda yang mengenal kawasan tersebut melalui istilah Historisch van Besoeki atau sejarah Besuki. Ia mendorong agar berbagai sumber sejarah tersebut dikaji secara serius dan disandingkan dengan arsip, manuskrip, serta penelitian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu tokoh yang tidak terpisahkan dari cerita awal perkembangan Besuki adalah Ki Pate Alos, yang dalam tradisi sejarah lokal dikenal sebagai tokoh pembuka wilayah Besuki.
Besuki pada masa awal disebut masih berupa kawasan hutan belantara. Dalam cerita turun-temurun masyarakat, wilayah tersebut bahkan digambarkan sebagai kawasan yang dianggap angker. Ki Pate Alos kemudian disebut berani membuka kawasan tersebut hingga berkembang menjadi permukiman.
Dalam tradisi lokal, Ki Pate Alos juga dikenal sebagai tokoh yang kemudian menjadi demang atau penguasa awal Besuki.
“Nama Ki Pate Alos tidak bisa dipisahkan dari sejarah awal Besuki. Beliau dikenal sebagai tokoh yang membuka wilayah ini. Bekas pusat kekuasaannya sekarang juga dikenal melalui Pendopo Pate Alos,” kata Agus.
Pusat Karesidenan Besuki
Peran Besuki semakin penting pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Besuki pernah menjadi pusat Karesidenan Besuki, sebuah wilayah administratif yang cakupannya pada periode tertentu meliputi kawasan yang kini menjadi Situbondo, Bondowoso, Jember hingga Banyuwangi.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa Besuki bukan sekadar kawasan permukiman biasa. Posisi geografis dan administratifnya pernah menempatkan Besuki sebagai salah satu simpul penting pemerintahan di kawasan timur Jawa.
Dalam catatan sejarah lokal yang disampaikan Agus, salah satu tonggak penting yang kemudian dikaitkan dengan Hari Jadi Besuki adalah pelantikan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Prawiroadiningrat pada 15 Agustus 1818.
Tanggal tersebut kemudian menjadi salah satu rujukan dalam pembahasan sejarah pemerintahan Besuki.
Kisah Perlawanan dan Basis Ulama
Agus juga menyinggung narasi sejarah mengenai karakter masyarakat Besuki pada masa kolonial yang disebut memiliki tradisi perlawanan terhadap kekuasaan Belanda.
Besuki dalam sejumlah cerita sejarah lokal disebut memiliki kekuatan masyarakat dan jaringan ulama yang cukup kuat. Nama Pate Unus juga disebut dalam literatur atau cerita sejarah yang berkaitan dengan kekuatan pada masa tersebut.
Namun, Agus menekankan bahwa berbagai kisah tersebut perlu ditelusuri melalui sumber primer dan penelitian sejarah agar fakta sejarah dapat dipisahkan secara jelas dari legenda, mitos maupun cerita turun-temurun.
“Kalau kita bicara sejarah, jangan hanya berdasarkan cerita. Arsip dan literatur harus dibuka. Sejarah Besuki harus dikaji secara akademis supaya generasi sekarang mengetahui bagaimana sebenarnya posisi Besuki pada masa lalu,” tegasnya.
Jejak Sejarah Masih Tersisa
Meski perkembangan zaman telah mengubah wajah Besuki, sejumlah jejak masa lalu masih dapat ditemukan. Mulai dari tata kota lama, kawasan sekitar alun-alun, masjid tua di sisi barat alun-alun, hingga peninggalan pendopo dan kawasan pemerintahan masa lalu.
Dari sisi kebudayaan, masyarakat Besuki juga memiliki keterkaitan kuat dengan budaya Madura. Dialek bahasa Madura yang berkembang di kawasan tersebut menjadi salah satu bagian dari identitas masyarakat setempat.
Bagi Agus Flores, berbagai peninggalan tersebut bukan sekadar bangunan tua atau cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat identitas sebuah wilayah yang pernah memiliki posisi penting dalam sejarah Jawa Timur.
“Besuki jangan hanya dilihat sebagai kecamatan. Ada sejarah panjang di belakang nama Besuki. Kalau benar pernah menjadi pusat pemerintahan kawasan yang sangat luas, maka literaturnya harus dibuka, diteliti dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Kini, pertanyaan besarnya bukan sekadar bagaimana Besuki pernah berjaya, tetapi seberapa serius generasi hari ini menggali kembali jejak sejarah tersebut. Dari nama Ki Pate Alos, Karesidenan Besuki, hingga berbagai peninggalan yang masih berdiri semuanya menjadi kepingan sejarah yang menunggu untuk disusun kembali secara ilmiah. (Mh)
