Oleh:
Herman Sjahthi, S.H., M.Pd., CBC.
RADAR-BLAMBANGAN.COM, | Sejarah revolusi Indonesia tidak pernah berdiri dalam satu garis pemikiran yang tunggal. Revolusi merupakan ruang perjumpaan berbagai gagasan tentang kemerdekaan, negara, masyarakat, keadilan sosial, dan masa depan bangsa. Dalam konteks tersebut, D.N. Aidit dan Tan Malaka menghadirkan dua perspektif yang menarik untuk dikaji secara kritis. Keduanya sama-sama berada dalam arus perjuangan politik radikal pada zamannya, tetapi memiliki latar sejarah, orientasi organisasi, dan perjalanan politik yang berbeda. Karena itu, membandingkan keduanya bukan berarti menyamakan posisi historis, melainkan membuka ruang untuk memahami bagaimana gagasan tentang “revolusi” dibentuk oleh konteks politik masing-masing tokoh.
Tan Malaka merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan Indonesia. Pemikirannya berkembang melalui pengalaman panjang dalam pergerakan antikolonial, pengasingan, aktivitas politik, serta karya-karya intelektual. Perpustakaan Nasional mencatat karya Tan Malaka seperti Madilog dan Gerpolek sebagai bagian penting dari jejak pemikiran politiknya. Dalam kerangka pemikirannya, revolusi tidak sekadar dipahami sebagai pergantian kekuasaan, tetapi berkaitan dengan pembebasan bangsa dari kolonialisme sekaligus pembangunan kesadaran politik rakyat. Tan Malaka kemudian memperoleh pengakuan negara sebagai Pahlawan Nasional, sehingga posisi historisnya dalam narasi kebangsaan Indonesia memiliki dimensi yang berbeda dengan tokoh-tokoh yang berada di luar kerangka tersebut.
Sementara itu, D.N. Aidit berkembang sebagai salah satu pemimpin utama Partai Komunis Indonesia (PKI) pada periode 1950-an hingga 1960-an. Setelah restrukturisasi kepemimpinan PKI pada 1951, karier politik Aidit berkembang pesat hingga menjadi Ketua Comite Central PKI. Di bawah kepemimpinannya, PKI mengalami perkembangan politik yang signifikan dan menjadi salah satu kekuatan politik besar dalam Pemilu 1955. Namun, perjalanan Aidit tidak dapat dilepaskan dari tragedi politik 1965. Ia kemudian dituduh memiliki keterlibatan dalam G30S, sebuah persoalan sejarah yang hingga kini terus menjadi objek kajian akademik dan perdebatan historiografis. Karena itu, membaca Aidit secara akademis membutuhkan kehati-hatian: antara fakta mengenai posisi politiknya, keterlibatan tokoh-tokoh tertentu, serta berbagai interpretasi mengenai tanggung jawab politik dalam peristiwa 1965 harus dibedakan secara jelas.
Perbedaan mendasar antara Tan Malaka dan Aidit dapat dilihat dari hubungan mereka dengan organisasi, ideologi, dan strategi perjuangan. Tan Malaka dikenal melalui gagasan tentang perjuangan nasional dan pemikiran revolusioner yang dituangkan dalam berbagai karya, sedangkan Aidit merupakan pemimpin organisasi politik komunis yang membangun basis massa melalui PKI. Dengan demikian, istilah “revolusi” memiliki konteks yang berbeda pada keduanya. Tan Malaka memperlihatkan bagaimana revolusi dapat dipahami sebagai perjuangan pembebasan nasional sekaligus proyek intelektual, sementara Aidit memperlihatkan bagaimana revolusi dapat ditempatkan dalam strategi perjuangan kelas dan organisasi politik. Perbedaan tersebut penting agar sejarah tidak disederhanakan menjadi sekadar pertentangan antara tokoh “baik” dan “buruk”, melainkan dianalisis berdasarkan konteks, gagasan, tindakan, dan konsekuensi sejarahnya.
Judul “Revolusi di Mata Mereka” dengan demikian dapat dibaca sebagai sebuah pendekatan historiografis: revolusi bukan hanya peristiwa yang terjadi, tetapi juga konstruksi pemikiran yang dipahami secara berbeda oleh para pelakunya. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa gagasan politik dapat menghasilkan mobilisasi sosial yang besar, tetapi pada saat yang sama dapat pula melahirkan konflik, polarisasi, dan kekerasan ketika perbedaan ideologi berhadapan dengan perebutan kekuasaan. Pengalaman Aidit dan Tan Malaka memberikan bahan penting untuk melihat hubungan antara ideologi, kepemimpinan, organisasi, dan perubahan sosial. Membaca sejarah secara kritis berarti tidak menghapus kontroversi, tetapi menempatkan kontroversi tersebut dalam konteks sumber dan bukti yang dapat diuji.
Pada akhirnya, “Revolusi di Mata Mereka” bukanlah upaya untuk memberikan pembenaran maupun penghakiman terhadap salah satu tokoh. Tulisan ini merupakan ajakan untuk melihat sejarah Indonesia secara lebih dewasa, kritis, dan akademis. Tan Malaka dan D.N. Aidit merupakan dua figur yang hidup dalam dinamika sejarah yang berbeda dan meninggalkan warisan pemikiran serta kontroversi yang berbeda pula. Generasi sekarang perlu mempelajari keduanya bukan untuk menghidupkan kembali pertentangan ideologis masa lalu, tetapi untuk memahami bagaimana sebuah bangsa dapat belajar dari konflik sejarahnya. Dengan membaca sejarah secara objektif, masyarakat dapat membangun kesadaran bahwa kemerdekaan, demokrasi, persatuan, dan keadilan sosial membutuhkan kemampuan untuk berdialog dengan masa lalu tanpa kehilangan orientasi terhadap masa depan.
HS.
