RADAR BLAMBANGAN.COM, | Surabaya – Ketua Umum Wartawan Fast Respon, Agus Flores, kembali menunjukkan langkah agresifnya dalam membongkar dugaan praktik tambang ilegal. Kali ini, sebanyak tujuh titik tambang di wilayah Jawa Timur menjadi sasaran pengungkapan, sebagai bentuk dukungan terhadap program Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
Agus Flores yang dikenal vokal dan tanpa kompromi itu menegaskan bahwa langkahnya bukan sekadar sensasi, melainkan bentuk kontribusi nyata dalam upaya membersihkan praktik ilegal yang diduga merugikan negara dan merusak lingkungan.
“Ini bukan soal berani atau tidak. Ini soal komitmen. Kalau ada tambang ilegal, ya harus dibongkar. Jangan sampai hukum kalah sama backing,” tegas Agus dalam keterangannya kepada wartawan di Surabaya, Senin (13/4/2026).
Ia menyebut, pola yang ditemukan di Jawa Timur tidak jauh berbeda dengan daerah lain seperti Jawa Tengah, Gorontalo, hingga Sulawesi Tengah, di mana aktivitas tambang ilegal kerap diduga mendapat perlindungan dari oknum kuat.
Dengan gaya khasnya yang tajam, Agus bahkan melontarkan sindiran keras terhadap oknum yang dinilai hanya mencari perhatian pimpinan.
“Ngapain cari muka? Padahal Kapolri sudah punya muka,” ujarnya lugas.
Menariknya, dalam aksinya kali ini Agus mengaku sengaja tidak melakukan koordinasi dengan Polda setempat. Hal itu dilakukan agar gerakannya tetap independen dan murni sebagai bentuk dukungan langsung terhadap agenda bersih-bersih yang digaungkan pimpinan tertinggi Polri dan pemerintah pusat.
Ia berharap langkah ini dapat menjadi alarm keras bagi aparat di daerah, sekaligus dorongan agar penegakan hukum terhadap tambang ilegal tidak tebang pilih.
“Kalau memang serius mau bersih, ya bersihkan semua. Jangan setengah-setengah. Jangan sampai ada kesan tajam ke bawah, tumpul ke atas,” pungkasnya.
Langkah Agus Flores ini pun memantik perhatian publik. Kini, sorotan tertuju pada aparat penegak hukum di Jawa Timur apakah akan menindaklanjuti temuan tersebut secara tegas, atau justru membiarkannya seperti “cacing kepanasan” yang hanya bergerak tanpa arah.
Publik menunggu, apakah gebrakan ini benar-benar menjadi awal dari pembersihan besar-besaran tambang ilegal di Jawa Timur.***
