RADAR-BLAMBANGAN.COM, | MAGELANG, — Pernyataan keras kembali dilontarkan Ketua Umum Fast Respon (FRN) Agus Flores terkait aktivitas pertambangan yang menjadi sorotan. Dengan gaya khasnya yang ceplas-ceplos, Agus menegaskan dirinya tidak akan berhenti melakukan pengawasan terhadap persoalan tambang yang dinilai perlu mendapat perhatian serius.
Agus menyampaikan, hari ini dirinya akan off dari aktivitas pemantauan tambang di Magelang. Namun, agenda berikutnya sudah menanti. Besok, ia dijadwalkan menuju Besuki untuk menghadiri Hari Jadi Besuki, Ki Pate Alos.
“Hari ini off tambang Magelang. Besok saya ke Besuki, hadir Hari Jadi Besuki Ki Pate Alos. Di Magelang aktif lagi,” ujar Agus Flores.
Namun di balik agenda tersebut, Agus juga menyinggung adanya dugaan keterlibatan atau backing dari oknum jenderal berpangkat bintang tiga dalam persoalan tambang. Pernyataan itu disampaikannya sebagai sorotan yang menurut dia perlu dibuktikan dan ditindaklanjuti melalui mekanisme hukum.
“Karena yang diduga beck up oknum Jenderal Bintang 3,” kata Agus.
Pernyataan tersebut kemudian berkembang menjadi kritik tajam terhadap efektivitas pengawasan aparat di daerah.
Agus bahkan melontarkan sindiran keras dengan mempertanyakan keberadaan dan fungsi Polda maupun Polres dalam menghadapi persoalan tambang yang terus menjadi sorotan.
“Ya, gini-gini aja terus. Baru kayaknya nggak ada fungsi Polda dan Polresnya,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Agus mengklaim para pelaku tambang justru lebih memperhitungkan keberadaan jaringan relawan atau anak buah Kapolri yang berada di bawah koordinasi FRN.
“Pelaku tambang itu lebih takut dengan anak buah Kapolri AF, ketimbang Polda dan Polres,” tegasnya.
Pernyataan Agus tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum. Terlebih, persoalan aktivitas pertambangan menyangkut aspek legalitas perizinan, lingkungan hidup, hingga potensi pelanggaran hukum apabila kegiatan dilakukan tanpa memenuhi ketentuan yang berlaku.
Dengan nada penuh humor, Agus bahkan menggambarkan situasi tersebut seperti kisah Abunawas.
“Saya yakin, saya di Besuki buka lagi itu. Pokoknya kayak Abunawas. Saya datang tutup, saya pulang buka. Saya datang tutup, saya pulang buka. Habis dibuka-tutup aja.” ujarnya sambil berseloroh.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa FRN mengaku akan terus memantau aktivitas tambang yang dianggap bermasalah. Di sisi lain, tudingan mengenai dugaan keterlibatan oknum jenderal bintang tiga maupun persoalan legalitas tambang tetap membutuhkan pembuktian dan klarifikasi dari pihak-pihak yang disebut.
Publik kini menanti langkah konkret aparat terkait: apakah dugaan pelanggaran pertambangan akan ditindak tegas, atau justru kembali menjadi polemik yang berulang ditutup saat diawasi, kemudian kembali beroperasi ketika pengawasan mereda.(Mh)
