RADAR BLAMBANGAN.COM, | BANYUWANGI — Gelombang arus balik Lebaran 2026 mencapai puncaknya di Pelabuhan Ketapang pada Minggu (29/3/2026) atau H+7. Ribuan pemudik, didominasi pengendara sepeda motor, memadati kawasan pelabuhan, menciptakan antrean panjang yang bahkan meluber keluar jalur khusus.
Deru mesin tak henti, klakson bersahut-sahutan, dan wajah-wajah lelah bercampur harap menjadi potret nyata di lapangan. Kepadatan yang kian tak terbendung memaksa petugas mengambil langkah cepat dengan membuka akses tiket kendaraan roda empat untuk mengurai kemacetan yang mengular.
Di tengah tekanan arus yang terus meningkat, PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang bergerak penuh. Seluruh 32 kapal feri dikerahkan tanpa jeda di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Sebanyak 18 kapal di antaranya dioperasikan dengan pola Tiba Bongkar Berangkat (TBB), strategi cepat yang dirancang untuk memangkas waktu tunggu dan mempercepat arus kendaraan.
General Manager Cabang Ketapang, Arief Eko, menjelaskan bahwa skema TBB difokuskan di sejumlah titik krusial. Empat kapal disiagakan di Dermaga MB-IV, sebelas kapal di LCM, dan tiga kapal di Dermaga Bulusan semuanya bekerja dalam ritme tinggi demi menjaga kelancaran arus balik. Ia menegaskan, situasi masih dalam kendali berkat koordinasi intensif dengan regulator dan aparat kepolisian.
Namun di balik kepadatan yang terasa menyesakkan, data menunjukkan tren yang sedikit berbeda. Berdasarkan catatan Posko Angkutan Lebaran Ketapang pada H+6 (28/3/2026), sebanyak 208 trip kapal telah beroperasi dalam 24 jam. Jumlah penumpang tercatat 49.523 orang turun 12,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kendaraan roda dua mencapai 8.925 unit (turun 15 persen), sementara roda empat sebanyak 5.513 unit (turun 13 persen).
Meski angka menurun, realitas di lapangan tetap berbicara lain: arus manusia dan kendaraan yang terus berdatangan menghadirkan tekanan luar biasa.
Ketapang hari ini bukan sekadar pelabuhan ia menjelma menjadi titik temu harapan, lelah, dan perjuangan ribuan pemudik yang ingin segera kembali ke rutinitas, meninggalkan hangatnya kampung halaman. (Mahalik)
